Posted by abdi on Sep 3, '07 4:25 AM for everyone

Dalam dekade terakhir ini, perhatian pada persoalan kesehatan para pria tampaknya menurun. Padahal, kasus menurunnnya kualitas kesehatan para pria semakin menaik. Apa yang perlu dilakukan, baik oleh para dokter maupun para pria sendiri?

Kalau bertahun-tahun lalu sampai sekarang balai kesehatan ibu dan anak (BKIA) sangat populer dan digalakkan demi meningkatnya kesehatan para ibu dan anak di Indonesia, tampaknya sekarang ini mungkin perlu ada yang namanya Balai Kesehatan Pria. Seberapa penting langkah itu? Ada masalah apa sebenarnya?

Coba Anda selidiki sendiri di wilayah Anda masing-masing entah itu di kantor, kampung, atau kelompok kategorial yang Anda miliki. Dengan hitungan sederhana, seberapa banyak pria usia di atas 40-an tahun yang masih sehat, kuat dan bugar tanpa ada penyakit sedikit pun.

Mungkin, Anda akan menemukan banyak pria tidak sehat. Setidaknya di sebuah kantor penerbitan, di bilangan Jakarta Barat, dari sepuluh pria usia di atas 40-an tahun yang saya temui, hanya satu yang masih sehat dan bugar entah secara klinis maupun penampakan luarnya.

Hal yang sama juga saya temukan di kampung tempat kelahiran saya, Semarang. Setidaknya dari sepuluh orang pria usia 40 tahun ke atas, nyaris tidak ada yang sehat sempurna. Bahkan sudah ada yang meninggal di usia 40-an tahun karena mengidap penyakit empedu.

Pria Meninggal Lebih Muda

Dalam sebuah simposium nasional mengenai kesehatan pria (National Symposium on Men’s Health Care Toward a Better Quality of Life Through Prevention, Early Detection and Rehabilitation) yang berlangsung di Universitas Diponegoro, Gedung Program Pasca Sarjana ruang Prof. Ir. Soemarman, Semarang yang berlangsung di akhir Bulan November lalu DR. Dr. Rudi Yuwana, Sp.B., Sp.U menyebutkan bahwa perhatian khusus pada kesehatan pria akhir-akhir ini perlu dilakukan karena harapan hidup pria pada umumnya lebih pendek daripada kaum wanita. “Setidaknya selama dekade terakhir ini,” ujar Presiden Indonesian Society for Sexual and Impotence Research (INA-SSIR) atau Perkumpulan Riset Impotensi Indonesia.

Prof. DR.Dr. Soeharyo Hadisapoetra, Sp.PD-KTI, Direktur program paska sarjana Universitas Diponegoro, Semarang bahkan menyebutkan bahwa laki-laki bakal meninggal lebih muda tujuh tahun daripada wanita. Selanjutnya bahkan bisa delapan, sembilan dan seterusnya bila perhatian pada kesehatan tidak pernah ada.

Rudi lalu menambahkan, angka kematian pada semua umur laki-laki lebih tinggi daripada angka kematian wanita. Dan ternyata data yang disampaikan Prof. Soeharyo menunjukkan bukti. Di Amerika, antara tahun 1990 sampai 2000 kejadian serangan jantung pada pria mencapai rata-rata lebih tinggi dibanding wanita. Dan ternyata tidak hanya penyakit jantung yang menempati urutan tinggi. Dalam kasus gagal jantung, rematik, stroke, kanker angka kematian pria tetap lebih tinggi dibanding wanita.

“Sebelum usia 50 tahun , menurut literatur setiap 10 kematian wanita akan diiringi kematian para pria sejumlah 16 orang,” jelas Soeharyo. Kasus yang sama juga terjadi di negara-negara lain. Angka kematian pria tampak lebih tinggi dibanding wanita. Di Cina rasio kematian pria dibanding wanita per 100 ribu populasi akibat penyakit stroke misalnya mencapai 2446/1814. Sementara kasus penyakit infeksi mencapai angka 363/201.

Sementara di Indonesia data persis memang belum ada. Namun data sederhana yang disampaikan oleh PT Askes Regional VI Jawa Tengah dan DIY bisa dipakai sebagai wakil.

Menurut Dr. Veronica Margo S. Mkes, AAK, Manajer Wilayah PT Askes Regio Jateng dan DIY kasus rawat inap akibat penyakit cardiomyopathy (penyakit gangguan panda jantung) di RSUD Karyadi Semarang periode Januari-Juni 2006 mencapai 62 pada pria dan pada wanita 33. Sementara kasus gagal jantung mencapai 117 pada pria dan 79 pada wanita.

Wanita Lebih Peduli

Menurut Rudi, meningginya angka ini terjadi karena para pria ternyata tidak lebih baik dalam memperhatikan persoalan kesehatan dirinya dibanding para wanita.

Berdasar penelitian, lanjut Rudi, para pria ternyata lebih jarang ke dokter atau enggan bila datang ke rumahsakit atau berkunjung ke dokter dibanding para wanita.“Dengan kata lain, para wanita lebih peduli dengan kesehatannya dibanding para pria,” jelas Rudi.

Dr. Sri Harsi Teteki, Mkes dari Yakes Telkom Jateng dan DIY menyebutkan, di Telkom, kerap kali diadakan seminar atau pertemuan yang membicarakan perihal kesehatan. Dan data kehadiran menunjukkan bahwa sebagian besar yang datang di seminar memang didominasi oleh para wanita.

Beberapa pria yang sempat ditanya Gaya Hidup Sehat (GHS) bahkan  menyatakan enggan setiap kali perusahaan memintanya melakukan cek kesehatan. Padahal, semua biaya periksa ditanggung perusahaan. “Kadang rasa enggan itu muncul karena aku gak ingin tahu penyakitku,” jelas seorang pria usia 37 tahun, karyawan sebuah penerbitan.

Pria lain menyatakan enggan karena terlalu repot. “Harus antri. Buang waktu saya, meskipun ada juga manfaatnya sih,” ungkap Yadi, sebut saja demikian.

Lebih dari itu, kebiasaan hidup ( misalnya merokok, minum alkohol, penggunaan narkoba) juga memengaruhi angka ini. Gaya hidup seperti ini tampaknya lebih kerap kita temui pada pria.

“Pria bahkan lebih rentan terhadap kecelakaan kerja maupun lalu lintas. Selain itu ada banyak pekerjaan yang dilakukan pria lebih beresiko dibanding wanita,” jelas Rudi. Sebut saja pekerjaan seperti kuli bangunan, pekerja konstruksi bangunan, penebang pohon, penambangan, balap motor dan mobil, sopir, dan lain-lain.

Karena itu, Rudi menyebutkan, para pria harus mulai memperhatikan dirinya. Setidaknya, mengikuti peraturan perusahaan dengan melakukan cek kesehatan merupakan langkah sederhana yang sangat membantu meningkatkan kualitas hidup.

Selain itu, tentu saja memperhatikan beragam standar dan prosedur keamanan yang ditentukan entah itu saat mengendara kendaraan bermotor, bekerja di perusahaan konstruksi atau di tempat lain adalah hal yang wajib dijalankan.

Di sisi lain, para dokter pun perlu melakukan sinergi terutama dalam membicarakan perihal penatalaksanaan yang tepat dan benar mengenai berbagai persoalan kesehatan para pria. Karena semakin banyak persoalan, semakin mendesak pula tindakan tepat guna dan efektif harus dijalankan.

“Saat ini tugas para spesialis adalah menciptakan modul-modul untuk pencegahan dan diagnosa dini mengenai suatu penyakit misalnya program share care untuk penyakit prostat,” ujar Rudi.

Artinya, seluk beluk penyakit ini perlu dibicarakan bersama oleh para dokter dari berbagai disiplin ilmu karena tidak hanya tanggung jawab para ahli urologi saja untuk meneliti persoalan prostat, melainkan juga ahli hormon misalnya.

Demikian juga dengan persoalan disfungsi ereksi. DE dalam hal ini berhubungan erat dengan penyakit-penyakit lain seperti penyakit kardiovaskular, endokrin (hormonal), neurology (saraf), dan proses penuaan. @

Awas Ancaman Sindroma Kardiometabolik!

Belakangan ini, istilah sindroma metabolic atau sindroma kardiometabolik kerap muncul dan terdengar di telinga kita. Istilah ini juga kerap muncul dalam diskusi ilmiah perihal kesehatan baik dalam maupun luar negeri.

Ini karena peran fenomena ini sangat penting dalam menentukan kualitas hidup setiap orang terutama para pria. Beragam penyakit yang menyertai sindroma ini mulai dari jantung, ginjal, stroke, juga diabetes mellitus. Dan tentu saja mengakibatkan beban biaya hidup bakal membengkak, hanya untuk mengobati dan merawat.

Sindroma kardiometabolik, menurut Prof. Askandar Tjokroprawiro, Sp.PD-KEMD, dari Pusat Diabetes dan Nutrisi, Rumah Sakit Dr. Soetomo-Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya disebut sebagai sekumpulan gejala kelainan pada pembuluh darah jantung, ginjal, metabolisme karbohidrat dan lemak, peningkatakan pembekuan darah, peradangan dan sekumpulan kelainan ini dikenal sebagai satu penyakit tersendiri.

Beberapa komponen faktor resiko yang kerap kita temui dan berpotensi menimbulkan sindroma ini adalah antara lain, adanya kegemukan pada perut, resistensi insulin, diabetes dan pre-diabetes, dislipidemia atau terganggunya kadar lemak darah (kolesterol), menaiknya tekanan darah, kecenderungan trombosis atau tersumbatnya pembuluh darah, gangguan fungsi endotel yang ditandai dengan menaiknya kadar protein dalam urin, menaiknya kadar kortisol, perlemekan di hati, penyakit kardiovaskular seperti jantung dan stroke.

Tentu semua ini secara terpisah maupun bersamaan akan berakibat pada meningkatnya angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (mortalitas).

Pada dasarnya, jelas Askandar, semua hal ini bisa dicegah dengan cara memodifikasi atau mengubah gaya hidup. Namun kerap sampai pada  tahap tertentu, kehendak kita kurang kuat untuk mengubah perilaku atau kebiasaan yang ada.

Baru kalau sudah terbaring di rumah sakit atau kalau sudah dinyatakan menderita sakit tertentu, para pria mulai sadar bahwa semua ini sebenarnya bukanlah yang diinginkannya.

Strategi penanganan sindroma ini dianggap efektif bila meliputi antara lain edukasi pasien atau penyadaran pada pasien mengenai penyakit dan pencegahannya, perubahan gaya hidup menjadi perilaku sehat, aktivitas fisik yang memadai, penurunan berat badan, kontrol tekanan darah, penanganan kadar lemak darah, dan kontrol gula darah.

Tentu semua itu lebih baik lagi bila dilakukan sejak awal, saat masa produktif para pria sedang meningkat. Setidaknya setahun sekali memeriksakan kesehatan secara keseluruhan merupakan langkah baik untuk pencegahan.

Namun, bila sudah terlanjur kena, memodifikasi gaya hidup menjadi langkah awal yang wajib dilakukan sebelum terlanjur menggunakan obat. @

Bukan Sekedar Persoalan Seksual

DR.Dr. Rudi Yuwana, Sp.B.,Sp.U, menyebutkan, umumnya masyarakat menganggap persoalan kesehatan pria hanya terkait dengan dengan perihal kehidupan seksual pria.

Memang banyak kasus keluhan kesehatan pria terkait dengan persoalan seputar reproduksi semisal peradangan prostat, disfungsi ereksi. Namun persoalan lain yang terkait terutama akibat proses penunaan seperti misalnya rambut beruban, sulit tidur, gangguan pencernaan, gangguan paru atau pernapasan, perut buncit, dan masih banyak lagi lainnya juga bakal dihadapi.

Bahkan, sebenarnya, pada berbagai penelitian yang membicarakan tentang disfungsi ereksi (DE), menunjukkan bahwa timbulnya DE terkait erat dengan penyakit sistemik lain seperti misalnya kardiovaskular (pembuluh darah jantung), endokrin, neurology, penuaan dan lain-lain.

Jadi, pada dasarnya layanan kesehatan pria menyangkut seluruh organ tubuh pria mulai dari rambut kepala sampai ujung kaki. Mulai dari soal botak, mata kabur, telinga tidak mendengar sampai beser. Apalagi proses penuaan saat ini sudah dimulai sejak orang beranjak dewasa dan saat puncak produktif. @

10 Petunjuk Pola Hidup Sehat

Berikut ini 10 petunjuk hidup sehat menurut Prof. Askandar Tjokroprawiro Sp.PD yang kerap disebutnya sebagai GULOH-SISAR atau SINDROMA-10. “Laksanakan GULOH-SISAR dengan pedoman BNI: Batasi, Nikmati, dan Imbangi,” jelas Askandar.

G (gula) : pantang gula bagi penderita diabetes mellitus dan kurangi konsumsi gula bagi non-diabetesi

U (uric acid = asam urat): batasi JAS-BUKET

L (lemak): batasi TEK-KUK-CS2

O (obesitas) : target lingkar pinggang Laki-laki < 90 cm, perempuan < 80 cm

H (hipertensi): untuk pasien hipertensi batasi garam, ikan asin, kacang asin, dan lain-lain

S (sigaret) : hentikan merokok sekarang juga

I (inaktivitas) : hindari  inaktivitas dan rutinkan olahraga + 300kcal/h / jalan 3 km atau sit up 50 – 100 kali/ h

S (stress) : usahakan tidur minimal 6 jam sehari

A (alcohol) : hentikan konsumsi alcohol sekarang juga

R (regular check up) : kontrol teratur, konsultasi dokter dan terapi. Terutama usia > 40 tahun : tiap 3, 6, 12 bulan

JAS-BUKET (bahan makanan kaya purin, penyebab naiknya asam urat) : Jerohan, Alkohol, Sarden, Burung dara, Unggas, Kaldu, Emping, Tape- BNI

TEK-KUK-CS2 (bahan makanan kaya lemak / kolesterol) : Telor, Keju, Udang, Kerang, Cumi, Susu, Santan- BNI

MABUK (bahan makanan kaya chromium. Chromium memperbaiki kerja insulin. Ini berarti baik untuk diabetesi) : Mrica, Apel, Brokoli, Udang, Kacang-kacangan

Makanan suplemen yang dianjurkan : Buncis, Bawang Putih, The hijau, Merica, TKW-PJKA-BK (banyak mengandung antioksidan)

TKW-PJKA-BK : Tomat, Kacang-kacangan, Wortel, Pepaya, Jeruk, Kurma, Apel, Brokoli, Kobis.

 


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help