Bicaralah
Selalu tidak pernah terbuka
Mulut hati malam ini
Dimana gerangan kau sembunyikan
Segala gundah gulana
Kucari di perut bumi tiada kudapat
Di temaram senja, tiada kulihat
Di mata hatimu tiada tampak
Bicaralah
Bicaralah
Dan aku akan mendengar
Dan sepenggal cemas pun lenyap
Percayalah
Aku kan mendengarkan
Seluruh penat jiwamu!!
12 Sept’05 jam 17.10 WIB
Aku Tidak Tahu
Tiada seorangpun tahu
Bila senyum ini tuk sementara lenyap
Tapi kenapa?
Aku pun tak tahu
Kutanyai malam
Tiada sekelumit jawab terdengar
Kuteriakkan pada bintang
Diam sekedar berkelap kelip, tiada suara
Aku tidak tahu
Wajah hati ini bagai kembali bergolak
Meminta elusan lembut sang purnama
Apa yang kurasa?
Aku tidak tahu
Sayang bila tepi usia ku menggenap
Dan aku pun tetap tidak tahu
Kenapa pula hati ini kembali bergejolak?
Palmerah, 14Sept’05 jam 14.10 wib
Malamku
Sembari menatap malamku
Kuberjalan menyusuri titian waktu
Merambati setiap alur jalan di depanku
Merasai getir dan gelak di sekelilingku
Aku hidup
Aku masih menghirup hembusan kasih sayangmu
O malamku
Tiada pernah aku merasa gelisah dalam pelukmu
Yang menghangati mimpiku
Tiada pernah aku merasa gentar dalam iringmu
Kalaku jejakkan lagi langkahku
O indahnya malamku menaungi jalanku
Getir yang kurasa tiada pernah mematahkan semangat juangku
Pahit yang menempel dilidahku tiada pernah mampu membungkam alunan merdu suaraku
Senandung kematian yang senantiasa terdengar di sekelilingku
Tidak akan pernah membuatku surut dari langkahku
O malamku buatlah jiwaku tetap seperti ini
Terangkat selalu dalam keyakinan diri meniti titian waktu
Kala kaupanggil bulan buat mengawasi langkahku aku pun tiada pernah merasa
Bahwa kau sedang tiada mampu berjaga mengiringiku
Kau selalu hadir di setiap langkahku
Semilir angin menghembusi jiwaku
Mendendangkan lagu kesukaanku, lagu cinta di sepanjang nafasku
Aku menghirup raganya
Yang membelai jiwaku
Aku rasai cumbuannya
Yang membuat gejolak jiwaku terasa lepas tak terbendung
O malamku
Terima kasihku buat cintamu
--Kala kurasai getar cintamu--
Selangkah lagi
Pagi ini
Selangkah lagi
Menatap cakrawala
Menatap harapan
Angin bertiup pelan
Membelai anganku
Membalut luka
Seberkas cahya menembus rasa
Katakan pada pagi
Aku telah bangkit
Tegakkan tulang-tulang
Regangkan oto-otot kehidupan
Langkahi keresahan
Wajah bumi memancar cerah
Manis tersungging di hatinya
-buat bungaku yang sedang mekar— 9 oktober 2000
peliharalah cintamu
sebatang ranting kering
jatuh……
terguling……..
tersapu angin………
terhempas oleh derasnya nafas bumi…
lenyap
akankah jiwamu bakal seperti ini?
Tidak,
Tidak kawanku
Hidupmu adalah angin itu
Yang bakal menghempaskan
Bumi ini
Dan membakar bumi ini
Dengan cintamu
Airku
Bayang-bayang berjalan menyisir pantai
Jejak langkahnya tiada tampak
Malam-malam serasa lenyap ditiup hembusan nafas langit
Awan menggelombang menuju akhir keresahan
Segerombolan burung gelisah menembus raganya
Gemuruh gelak kesakitan mendengung di telinga bumi
Menyaksikan karang terhempas amarah sang badai
Rembulan, ciumlah aku
Terlempar aku di sisi sang rembulan
Kupeluk dia dalam desah nafas cintaku
Gelegak nafasku memburu tiada henti
Sang rembulan sambut cintaku
Dicumbuinya aku dengan lidah api
Menggeletar menembusi pori-pori kejantananku
Menyatu jiwaku dengan jiwanya
Terbawa aku dalam genggaman gelora cintanya
Sang rembulan bawa aku dalam khayalmu
Peluklah aku dalam tidurmu
Dan buailah daku dengan hangat tubuhmu
Biarlah geletar darahku menggelegak menyapu malamku
Tiada gelisah terpancar di matamu
Senyum manis di bibirmu kembali tersungging
Tatap matamu memancar cerah bagaikan tatapan mata sang venus
Kembalu kau padaku
Bersama hembusan angin timur
Yang membawa anganku mengembara pada ribuan tahun yang telah lampau
Bumi tiada manusia di dalamnya
Hanya tetumbuhan dan binatang serta benda-benda mati
Menemani tidur sang rembulan
Langit kepakkan sayap dalam kemegahannya
Tiada pahit terasa di lidah
Tiada bau gelisah tercium dalam hati
Mata masih terasa segar memandang alam
Udara segar terhirup paru-paru setiap mahkluk
Ah, apakah kenangan ini bakal kembali?
Kini kau tetap tersenyum walau bumimu resah
Hatimukah yang sudah mulai tenteram?
-buat kawanku yang sedang gelisah memandang wajah bumi----
sambut nafasku
angin berhembus membawa nafasku
semilir lembut membelai jantung kalbu
nafas kelelahan yang menyengat sekujur raga
kini tiada lagi
buaian nyanyian hati menyembul merasuki badan bumi
melayang merasuki buti-butir cinta yang bersemayam di setiap hati
semburat cahya kegirangan menyambut datangnya pagi
bulan terasa enggan beranjak menyaksikan senyum tersungging pada mulut bumi
yang sedang menyatakan cintanya
merayu sang angin dalam peraduan indah guliran waktu
nafasku berganti setiap saat
menghembus gelombang asap keresahan
menggantinya dengan harum aroma bunga melati
dan sinar cerah bintang venus
salam manis kicauan burung gereja menyambut hadirnya
arus kasih yang memancar menyusup jantung bumi
nafasku tlah berganti menjadi nafas cinta
----bila bunga kembali ceria lagi-------
o bungaku
di tanah ini kau berpijak
kau resapi basah air bumi ini
kau rasai terik mentari membakar halus kulitmu
tangan dan kakimu bagai daun-daun mengembang,
bergerak menggapai langit
kakimu bagai akar-akar kuat menopang derasnya angin yang menerpamu
panas, kering, basah, dan lembab membungkusmu berganti-ganti
hari berganti hari kau tumbuh kuat dan hebat
bagai tombak tertancap tiada bergoyang
o bungaku
wangi harum aroma tubuhmu
manis, cerah terpancar dari mekar wajahmu
lembut, namun liat kulitmu
kau warnai dunia ini dengan manisnya hatimu
kau terangi gelap langit dengan pancaran
manis wajahmu
kau sapu kelam jiwa-jiwa dengan hembusan nafas cintamu
o bungaku
biarlah selalu dirimu menjadi penentu arus nafas dunia ini
--kala cinta menggoda nafas hidupku---buat bungaku yang sedang mekar---
hai manis, janganlah menangis
hapuslah air matamu dan janganlah bersedih lagi
tataplah awan yang putih biarlah manismu kunikmati pagi ini
tiada rembulan yang bersinar terang
bila hatimu risau menanggung kelam malam yang lalu
berikan bibirmu yang manis sebagai pemanis harimu
dan pagi kan menjadi bening sebening embun pagi yang menetes menembus buluh
perindu
sampaikan salamku padanya o angin pagi
aku rindu padanya
aku mendamba berjumpa dengannya kuingin hibur hatinya yang pilu
hatinya yang ingin mereguk kebebasan dan menghirup kemerdekaan cinta
bawalah aku ke sana o angin
dan biarlah kupeluk dirinya dalam kelembutan dan kehangatan cinta
--buat manisku—
bila malamku tetap gelisah
sinar rembulan memancar
menembus jiwa-jiwa yang sedang gelisah
angin berhembus membuai resah hati
yang tiada kunjung sirna
senandung binatang malam mengusik kelam
dingin menyusup tulang
satu-satu kuhitung bayang malamku
yang berceceran menyebarkan aroma gelisah memagut malam
birahi malamku menggeletar menghendaki cumbuan nafasku
aku berdiri mengangkang malamku
merobek selaput hitam yang menyelimuti rongga kehidupan
tiada takut hadirku bakal melahirkan sebentuk malam lagi
senyumlah aku terpuaskan oleh deras arus tangis yang tersisa
tersengat aku tiba-tiba oleh tetesan embun kasihmu
tiada pernah kuduga bayang malamku
bakal melahirkan pagi
aku salah sangka
malamku melahirkan pagi dan bukan melahirkan malam yang lain
sengat baskara memancar menembus relung jiwa yang terdalam
yang tersembunyi di sudut tepian pagi
sirnalah malamku dan tersenyumlah aku
--percayalah selalu akan dirimu kawanku—
bila
semburat cahya kasih
memancar lembut merasuki rongga jiwa
mengusik sunyi malam
menggeletarkan damai bumi ini
terpancar sinarnya membangkitkan sukma
yang sedang gelisah
menanti fajar, menanti datangnya kekasih
malam begitu lama menyelimuti jiwanya
dingin menyengat panas hatinya
bilakah sang rembulan beranjak dari peraduannya
bilakah hati ini menjadi ceria kembali
bilakah sang kekasih kan datang membelai resah hati ini
o bilakah?
Malamku tinggalkanlah diriku
Pergilah mencari kasihku
Dan datanglah kembali bersama angin timur
Kabarkanlah padaku
Bahwa kasihku masih mencintai aku
O malam
Bilakah resah ini kan tersungkur ?
Bilakah gelisah malamku ini kan sirna?
Bilakah?
--buat teman-temanku yang sedang gelisah mencari cinta--
Sendiri
Bulan tersaput gelap
di malam pekat
namun cahyanya tetap terang
bulan menantang
tiada takut dan kecut
awasi bumi yang surut
(isi dan bentuknya)
Aku duduk terpaku
menatapi terangnya
di malam benderang
yang sunyi, sepi, tiada bertepi
kukagumi jiwaku
dalam kesendirian
sElAmat uLAng TahUn
seberkas sinar
memancar, menembus relung jiwa
menyengat nurani
menggugah sanubari
menghentak raga………………
kutanyai bayangku;
akankah kehendakku tersedak
tergerak oleh kasih sejuta jiwa
jiwa yang penuh kasih
rentangkan kedamaian
sodorkan kebaikan
di hari jadiku
Titian Hidup
tertatih kuberjalan
meniti waktu
detik demi detik
terlampaui….
Kurayapi lorong-lorong kehidupan
kutembusi gelapnya
kurasai dinginnya
teresap di relung-relung jiwa
selamat pagi
ketika rembulan tlah lewat
aku tersadar dari tidurku semalam
angin dingin menembus relung hatiku
meretas kehangatan yang terasai semalam
pagiku kini merekah
menetas dari kegelapan
menyembul, melampaui waktu
sunyi, sepi ……
rasaku kali ini
seolah bumi terpaku
tiada bergeming
Ranting
sebatang ranting jatuh
terpelanting
terguling
diantara puing-puing dedaunan
yang berguguran
bersinggungan oleh angin
sanggupkah aku
hariku sepi
sunyi tiada tepi
aku menanti
sambil merasai pahit
yang ada di sudut hati
kau tidak tahu
kalau aku
tiada ragu
untuk mencintaimu
lalu kedendangkan lagu
sebagai buluh perindu
pengobat rasa kangenku
padamu
oh kasihku
sulit memang
agar kau mau percayai ku
tapi aku yakin
suatu saat kau
kan yakin
padaku
Keluh Sang Kondektur
Batumu menyayat sembilu hatiku
Batumu mengiris hati anakku
Batumu mengoyak-moyak hidup istriku
Apa salahku hingga kau buat ragaku membujur s’bagai pesakitan?
Kau datang bagai semut mendapat gula di dalam bisku
Tiada pikir panjang kau lempari batumu dan mengenai kepalaku
Aku jatuh, roboh
Ya, kepalaku bocor
Tengkorakku serasa jebol
Dan hatiku longsor
Karna duniaku teledor membuat pemuda pelajar ini menjadi preman jalanan
2O, nasibku
O, hidupku
Leleh air mata menggenang di pipi istriku
Sanggupkah kau bendung curahan butir-butir kepedihannya?
Tidakkah kau tega melihat diriku begini?
Anak-anakku menantiku sembuh buat beri mereka sekedar sarapan
Siapa lagi yang bisa beri mereka uang jajan dan uang sekolah?
Kamu, kamu sekaliankah?
Kamukah ?
Buat apa kau berkelahi bagai jagoan?
Itukah hasil ajaran dan didikan gurumu di sekolah?
Dengan batumu kau lumuri kemiskinan kami dengan kepedihan yang menyayat
O, nelangsa hatiku
O, anak-anak bangsaku!!!!
Salemba Bluntas, 23/3/2000, sehari setelah tawuran
Gabahku
O , sial memang nasibku!
Panenku yang sekarang berhasil malah tiada memberi harapan
Tahun kemarin gagal semua dan aku bangkrut
Aku mesti cari hutangan kesana kemari buat sekolahkan anak-anakku
Harapanku tahun ini panenku berhasil dan aku dapat duit banyak
Tapi, O , malangnya nasibku
Panenku berhasil!
Ya panenku berhasil menurunkan harga gabah
Uangku tidak cukup lagi buat tutup modal
Beras impor banyak amat!
Dolog tidak segera beli gabahku
Harga tinggi tiada lagi dapat kuraih
Akhirnya kujual ke tengkulak dengan harga rendah
Ya, ya memang nsib orang kecil sengsara belaka
Buat apa aku susah-sudah sediakan orang kota makanan kalau akhirnya aku sendiri yang jadi korban?
Malang benar nasibku!
Kemarin harga pupuk sudah tinggi
Sekarang harga gabah jadi rendah
Aku dapat uang dari mana buat hidup yang layak?!!!!
Ha!
(Salemba Bluntas, 23 Maret 2000 –ketika harga gabah turun)
Cerita sang Bantal
Malamku tiada pernah sepi
Kupingku tiada henti mendengarkan keluhan jiwamu
Hatikupun terkoyak mendengar jeritanmu
Apa yang bisa kubuat?
Tetes air matamu membasahi bajuku
Asin bercampur pedih
Dalam tidurmupun otakmu bekerja
Terserap semua yang kaupikirkan dalam barisan ragaku
Tergambar jelas jiwamu
Ya , jiwamu yang takut
Terhimpit oleh susahnya hidup ini
Kau cerita padaku ;
Harga listrik naik
Harga bbm naik
Sekolah tiada lagi ada subsidi
Sebentar lagi tarif angkutan umum bakalan naik
Dan apalagi yang bakalan naik
Aku?
Aku naik, naik pohon apa?
Pohon kepedihan, jelas itu!
Aku malu kau lihat begini terus, bantalku
Besok, apalagi yang kau mau ceritakan padaku
Aku tiada pernah bosan dengar keluhanmu,
Tapi aku sedih; bisa buat apa aku ini?
Jakarta, 23 Maret 2000
Surat Buat Kawanku Sang Koruptor Besar
Aku heran dengan wajahmu
Setiap hari masih tetap putih saja
Cerah dan tiada mendung menggantung
bagai bayi yang tiada pernah berdosa
Tiada tahu aku hatimu
Kau janji mau kembalikan uang rakyat
Oh, maaf, uang negara
Sampai sekarang belum kau penuhi
Kapan????
Sampai kapan kau bakalan sadar?
Tindakmu menyengsarakan rakyat kecil
Mana hatimu?
Mana jiwamu?
Tiadakah lagi akal budimu?
Tiadakah lagi kemanusiaanmu?
Ataukah sekarang yang tinggal cuman badan dan nyawamu?
Jadi tiada lagi berbeda dengan anjingku yang manis itukah?
O, maaf kawanku
Bukankah kawan anjing adalah anjing juga atau anjing juga bisa punya kawan manusia?
Ya, gimana dong sekarang?
Mestikah kau biarkan masyarakat kecil menanggung dosamu?
Mestinya kau bayar lunas semua penderitaan kawan-kawan kecilmu yang tiada pernah bisa menikmati hamburgernya MC Donal
O’kawanku!!!!
Jakarta, 23 Maret 2000
Senyumlah karena pagi ini indah
Indah pagi mengusir malam
Cerah sinar mentari secerah wajahmu yang manis
Terpancar menembus jantung hati ini
Memasuki rongga-rongga jiwa
Menghangati segenap pembuluh kasih
Lembut, namun kuat menggetarkan kalbu jiwa ini
Segarnya pagi ini menyusup melampaui ambang waktu
Tergambar anganku akan hari yang bakal kulalui
Pelan, tertatih namun yakin kususuri hari ini
Satu persatu terbentang peristiwa
Mengiring langkahku
Merapati hariku yang tiada pernah sepi
Membuai anganku dalam sebuah lautan cita
Yang terlukis dalam gelombang alunan ombak cinta
Dingin, membasahi tubuh jiwa ini
Gejolak dan geretak setiap batin membual bersama sinar mentari
Yang terasa semakin membara
Membakar hati setiap manusia
Semilir udara pagi ini membelai anganku itu
Dalam getar dan manis hariku
Oh indahnya pagiku
--biarlah manismu kunikmati “pagi” ini--
Senyummu yang manis
21 September 2000
Senyummu tiada dapat kulupakan
Cantik parasmu membuatku terpesona
Bagaikan rembulan yang tampak dari jauh
Cerah wajahmu menerangi setiap sudut hati
Yang sedang dirundung gelisah
Hati tiap insan tiada akan pernah
Tahan menatap cahyamu
Yang senantiasa memancarkan sinar harapan
Oh sang pembawa kehidupan bawalah diriku mengikuti alurmu
Buatlah tiap insan merasakan kegembiraan yang kau tawarkan
Biarlah senyummu menerangi hidup ini
Memenuhi gelisah hati yang sedang nikmat tinggal di beranda jiwa-jiwa
Semalam aku rasakan getir
Ketika aku lihat bumi kepanasan terbakar
Terbakar oleh panasnya amarah setiap insan yang memendam dendam
Panasnya bumi tersengat murka mereka
Jiwa-jiwa tiada pernah merasa tenteram
Mendengarkan senandung kematian di setiap sudut bumi
Wajah bulan tampak masam dan muram
Menyaksikan hitamnya hidup
Hati ini mendambakan senyummu kembali
Tiada pernah aku rasakan manis hidup ini
Dalam kegembiraan
Yang bisa dirasakan bersama oleh tiap insan
Satu-satunya harapanku adalah munculnya wajahmu yang begitu lembut dan manis
Bagaikan bayi yang tiada dosa di lubuk hatinya
Tiada prasangka mampir di hatimu
Tiada curiga terpancar dimatamu
Tiada dendam terbenam di dadamu
Oh sang pembawa kehidupan
Buatlah hidupku menjadi cerah secerah wajahmu
--Saat kurasakan gelisah menyelubungi bumi ini
Sang pengembara
Sept.25’ 2000
Sembari menutup mulut
Aku menatap dari kejauhan
Tiada yang tahu dimana aku ada
Tiada satu insan pun peduli
Kemana aku pergi
Aku pandangi langit yang hitam tiada sinar cerah di wajahnya
Hatiku pun semakin gundah
Merenungi kepergianku yang tiada arah dan tujuan
Di tepi bukit itu aku merasa sendiri
Tiada kawan yang mengiringiku
Angin pun enggan mendekatiku
Panas merayap dari kakiku ke kepala
Binatang gentar menyapaku
Aku , sang pengembara yang sedang menuju tepian dunia
Memandang ke kejauhan, bumi yang sedang bergejolak
Tiada rasa takut dan gentar menempel di raut wajahku yang kusam dan keras
Dedaunan bergesek berbisik sambil memperhatikan keberadaanku
Senyap terasa menyelimuti bukitku
Lalu senandung kematian terucap dari mulutku
Lirih namun sekuat badai guruh menembus jantung langit
Awan terbelah tak kuasa menahan sakit tertembus kidungku