Posted by abdi on Sep 13, '07 7:41 AM for everyone

Bicaralah

Selalu tidak pernah terbuka

Mulut hati malam ini

Dimana gerangan kau sembunyikan

Segala gundah gulana

Kucari di perut bumi tiada kudapat

Di temaram senja, tiada kulihat

Di mata hatimu tiada tampak

Bicaralah

Bicaralah

Dan aku akan mendengar

Dan sepenggal cemas pun lenyap

Percayalah

Aku kan mendengarkan

Seluruh penat jiwamu!!

12 Sept’05 jam 17.10 WIB

Aku Tidak Tahu

Tiada seorangpun tahu

Bila senyum ini tuk sementara lenyap

Tapi kenapa?

Aku pun tak tahu

Kutanyai malam

Tiada sekelumit jawab terdengar

Kuteriakkan pada bintang

Diam sekedar berkelap kelip, tiada suara

Aku tidak tahu

Wajah hati ini bagai kembali bergolak

Meminta elusan lembut sang purnama

Apa yang kurasa?

Aku tidak tahu

Sayang bila tepi usia ku menggenap

Dan aku pun tetap tidak tahu

Kenapa pula hati ini kembali bergejolak?

Palmerah, 14Sept’05 jam 14.10 wib

Malamku

Sembari menatap malamku

Kuberjalan menyusuri titian waktu

Merambati setiap alur jalan di depanku

Merasai getir dan gelak di sekelilingku

Aku hidup

Aku masih menghirup hembusan kasih sayangmu

O malamku

Tiada pernah aku merasa gelisah dalam pelukmu

Yang menghangati mimpiku

Tiada pernah aku merasa gentar dalam iringmu

Kalaku jejakkan lagi langkahku

O indahnya malamku menaungi jalanku

Getir yang kurasa tiada pernah mematahkan semangat juangku

Pahit yang menempel dilidahku tiada pernah mampu membungkam alunan merdu suaraku

Senandung kematian yang senantiasa terdengar di sekelilingku

Tidak akan pernah membuatku surut dari langkahku

O malamku buatlah jiwaku tetap seperti ini

Terangkat selalu dalam keyakinan diri meniti titian waktu

Kala kaupanggil bulan buat mengawasi langkahku aku pun tiada pernah merasa

Bahwa kau sedang tiada mampu berjaga mengiringiku

Kau selalu hadir di setiap langkahku

Semilir angin menghembusi jiwaku

Mendendangkan lagu kesukaanku, lagu cinta di sepanjang nafasku

Aku menghirup raganya

Yang membelai jiwaku

Aku rasai cumbuannya

Yang membuat gejolak jiwaku terasa lepas tak terbendung

O malamku

Terima kasihku buat cintamu

--Kala kurasai getar cintamu--


Selangkah lagi

Pagi ini

Selangkah lagi

Menatap cakrawala

Menatap harapan

Angin bertiup pelan

Membelai anganku

Membalut luka

Seberkas cahya menembus rasa

Katakan pada pagi

Aku telah bangkit

Tegakkan tulang-tulang

Regangkan oto-otot kehidupan

Langkahi keresahan

Wajah bumi memancar cerah

Manis tersungging di hatinya

-buat bungaku yang sedang mekar— 9 oktober 2000

peliharalah cintamu

sebatang ranting kering

jatuh……

terguling……..

tersapu angin………

terhempas oleh derasnya nafas bumi…

lenyap

akankah jiwamu bakal seperti ini?

Tidak,

Tidak kawanku

Hidupmu adalah angin itu

Yang bakal menghempaskan

Bumi ini

Dan membakar bumi ini

Dengan cintamu

Airku

Bayang-bayang berjalan menyisir pantai

Jejak langkahnya tiada tampak

Malam-malam serasa lenyap ditiup hembusan nafas langit

Awan menggelombang menuju akhir keresahan

Segerombolan burung gelisah menembus raganya

Gemuruh gelak kesakitan mendengung di telinga bumi

Menyaksikan karang terhempas amarah sang badai

Rembulan, ciumlah aku

Terlempar aku di sisi sang rembulan

Kupeluk dia dalam desah nafas cintaku

Gelegak nafasku memburu tiada henti

Sang rembulan sambut cintaku

Dicumbuinya aku dengan lidah api

Menggeletar menembusi pori-pori kejantananku

Menyatu jiwaku dengan jiwanya

Terbawa aku dalam genggaman gelora cintanya

Sang rembulan bawa aku dalam khayalmu

Peluklah aku dalam tidurmu

Dan buailah daku dengan hangat tubuhmu

Biarlah geletar darahku menggelegak menyapu malamku

Tiada gelisah terpancar di matamu

Senyum manis di bibirmu kembali tersungging

Tatap matamu memancar cerah bagaikan tatapan mata sang venus

Kembalu kau padaku

Bersama hembusan angin timur

Yang membawa anganku mengembara pada ribuan tahun yang telah lampau

Bumi tiada manusia di dalamnya

Hanya tetumbuhan dan binatang serta benda-benda mati

Menemani tidur sang rembulan

Langit kepakkan sayap dalam kemegahannya

Tiada pahit terasa di lidah

Tiada bau gelisah tercium dalam hati

Mata masih terasa segar memandang alam

Udara segar terhirup paru-paru setiap mahkluk

Ah, apakah kenangan ini bakal kembali?

Kini kau tetap tersenyum walau bumimu resah

Hatimukah yang sudah mulai tenteram?

-buat kawanku yang sedang gelisah memandang wajah bumi----

sambut nafasku

angin berhembus membawa nafasku

semilir lembut membelai jantung kalbu

nafas kelelahan yang menyengat sekujur raga

kini tiada lagi

buaian nyanyian hati menyembul merasuki badan bumi

melayang merasuki buti-butir cinta yang bersemayam di setiap hati

semburat cahya kegirangan menyambut datangnya pagi

bulan terasa  enggan beranjak menyaksikan senyum tersungging pada mulut bumi

yang sedang menyatakan cintanya

merayu sang angin dalam peraduan indah guliran waktu

nafasku berganti setiap saat

menghembus gelombang asap keresahan

menggantinya dengan harum aroma bunga melati

dan sinar cerah bintang venus

salam manis kicauan burung gereja menyambut hadirnya

arus kasih yang memancar menyusup jantung bumi

nafasku tlah berganti menjadi nafas cinta

----bila bunga kembali ceria lagi-------

o bungaku

di tanah ini kau berpijak

kau resapi basah air bumi ini

kau rasai terik mentari membakar halus kulitmu

tangan dan kakimu bagai daun-daun mengembang,

bergerak menggapai langit

kakimu bagai akar-akar kuat menopang derasnya angin yang menerpamu

panas, kering, basah, dan lembab membungkusmu berganti-ganti

hari berganti hari kau tumbuh kuat dan hebat

bagai tombak tertancap tiada bergoyang

o bungaku

wangi harum aroma tubuhmu

manis, cerah terpancar dari mekar wajahmu

lembut, namun liat kulitmu

kau warnai dunia ini dengan manisnya hatimu

kau terangi gelap langit dengan pancaran

manis wajahmu

kau sapu kelam jiwa-jiwa dengan hembusan nafas cintamu

o bungaku

biarlah selalu dirimu menjadi penentu arus nafas dunia ini

--kala cinta menggoda nafas hidupku---buat bungaku yang sedang mekar---

hai manis, janganlah menangis

hapuslah air matamu dan janganlah bersedih lagi

tataplah awan yang putih biarlah manismu kunikmati pagi ini

tiada rembulan yang bersinar terang

bila hatimu risau menanggung kelam malam yang lalu

berikan bibirmu yang manis sebagai pemanis harimu

dan pagi kan menjadi bening sebening embun pagi yang menetes menembus buluh

perindu

sampaikan salamku padanya o angin pagi

aku rindu padanya

aku mendamba berjumpa dengannya kuingin hibur hatinya yang pilu

hatinya yang ingin mereguk kebebasan dan  menghirup kemerdekaan cinta

bawalah aku ke sana o angin

dan biarlah kupeluk dirinya dalam kelembutan dan kehangatan cinta

--buat manisku—

bila malamku tetap gelisah

sinar rembulan memancar

menembus jiwa-jiwa yang sedang gelisah

angin berhembus membuai resah hati

yang tiada kunjung sirna

senandung binatang malam mengusik kelam

dingin menyusup tulang

satu-satu kuhitung bayang malamku

yang berceceran menyebarkan aroma gelisah memagut malam

birahi malamku menggeletar menghendaki cumbuan nafasku

aku berdiri mengangkang malamku

merobek selaput hitam yang menyelimuti rongga kehidupan

tiada takut hadirku bakal melahirkan sebentuk malam lagi

senyumlah aku terpuaskan oleh deras arus tangis yang tersisa

tersengat aku tiba-tiba oleh tetesan embun kasihmu

tiada pernah kuduga bayang malamku

bakal melahirkan pagi

aku salah sangka

malamku melahirkan pagi dan bukan melahirkan malam yang lain

sengat baskara memancar menembus relung jiwa yang terdalam

yang tersembunyi di sudut tepian pagi

sirnalah malamku dan tersenyumlah aku

--percayalah selalu akan dirimu kawanku—

bila

semburat cahya kasih

memancar lembut merasuki rongga jiwa

mengusik sunyi malam

menggeletarkan damai bumi ini

terpancar sinarnya membangkitkan sukma

yang sedang gelisah

menanti fajar, menanti datangnya kekasih

malam begitu lama menyelimuti jiwanya

dingin menyengat panas hatinya

bilakah sang rembulan beranjak dari peraduannya

bilakah hati ini menjadi ceria kembali

bilakah sang kekasih kan datang membelai resah hati ini

o bilakah?

Malamku tinggalkanlah diriku

Pergilah mencari kasihku

Dan datanglah kembali bersama angin timur

Kabarkanlah padaku

Bahwa kasihku masih mencintai aku

O malam

Bilakah resah ini kan tersungkur ?

Bilakah gelisah malamku ini kan sirna?

Bilakah?

--buat teman-temanku yang sedang  gelisah mencari cinta--

Sendiri

Bulan tersaput gelap

di malam pekat

namun cahyanya tetap terang

bulan menantang

tiada takut dan kecut

awasi bumi yang surut

(isi dan bentuknya)

Aku duduk terpaku

menatapi terangnya

di malam benderang

yang sunyi, sepi, tiada bertepi

kukagumi jiwaku

dalam kesendirian

sElAmat uLAng  TahUn

seberkas sinar

memancar, menembus relung jiwa

menyengat nurani

menggugah sanubari

menghentak raga………………

kutanyai bayangku;

akankah kehendakku tersedak

tergerak oleh kasih sejuta jiwa

jiwa yang penuh kasih

rentangkan kedamaian

sodorkan kebaikan

di hari jadiku

Titian Hidup

tertatih kuberjalan

meniti waktu

detik demi detik

terlampaui….

Kurayapi lorong-lorong kehidupan

kutembusi gelapnya

kurasai dinginnya

teresap di relung-relung jiwa

selamat pagi

ketika rembulan tlah lewat

aku tersadar dari tidurku semalam

angin dingin menembus relung hatiku

meretas kehangatan yang terasai semalam

pagiku kini merekah

menetas dari kegelapan

menyembul, melampaui waktu

sunyi, sepi ……

rasaku kali ini

seolah bumi terpaku

tiada bergeming

Ranting

sebatang ranting jatuh

terpelanting

terguling

diantara puing-puing dedaunan

yang berguguran

bersinggungan oleh angin

sanggupkah aku

hariku sepi

sunyi tiada tepi

aku menanti

sambil merasai pahit

yang ada di sudut hati

 

kau tidak tahu

kalau aku

tiada ragu

untuk mencintaimu

lalu kedendangkan lagu

sebagai buluh perindu

pengobat rasa kangenku

padamu

oh kasihku

 

sulit memang

agar kau mau percayai ku

tapi aku yakin

suatu saat kau

kan yakin

padaku

Keluh Sang Kondektur

Batumu menyayat sembilu hatiku

Batumu mengiris hati anakku

Batumu mengoyak-moyak hidup istriku

Apa salahku  hingga kau buat ragaku membujur s’bagai pesakitan?

Kau datang bagai semut mendapat gula di dalam bisku

Tiada pikir panjang kau lempari batumu dan mengenai kepalaku

Aku jatuh, roboh

Ya, kepalaku bocor

Tengkorakku serasa jebol

Dan hatiku longsor

Karna duniaku teledor membuat pemuda pelajar ini menjadi preman jalanan

2O, nasibku

O, hidupku

Leleh air mata menggenang di pipi istriku

Sanggupkah kau bendung curahan butir-butir kepedihannya?

Tidakkah kau tega melihat diriku begini?

Anak-anakku menantiku sembuh buat beri mereka sekedar sarapan

Siapa lagi yang bisa beri mereka uang jajan dan uang sekolah?

Kamu, kamu sekaliankah?

Kamukah ?

Buat apa kau berkelahi bagai jagoan?

Itukah hasil ajaran dan didikan gurumu di sekolah?

Dengan batumu kau lumuri kemiskinan kami dengan kepedihan yang menyayat

O, nelangsa hatiku

O, anak-anak bangsaku!!!!

Salemba Bluntas, 23/3/2000, sehari setelah tawuran

Gabahku

O , sial memang nasibku!

Panenku yang sekarang berhasil malah tiada memberi harapan

Tahun kemarin gagal semua dan aku bangkrut

Aku mesti cari hutangan kesana kemari buat sekolahkan anak-anakku

Harapanku tahun ini panenku berhasil dan aku dapat duit banyak

Tapi, O , malangnya nasibku

Panenku berhasil!

Ya panenku berhasil menurunkan harga gabah

Uangku tidak cukup lagi buat tutup modal

Beras impor banyak amat!

Dolog tidak segera beli gabahku

Harga tinggi tiada lagi dapat kuraih

Akhirnya kujual ke tengkulak dengan harga rendah

Ya, ya memang nsib orang kecil sengsara belaka

Buat apa aku susah-sudah sediakan orang kota makanan kalau akhirnya aku sendiri yang jadi korban?

Malang benar nasibku!

Kemarin harga pupuk sudah tinggi

Sekarang harga gabah jadi rendah

Aku dapat uang dari mana buat hidup yang layak?!!!!

Ha!

(Salemba Bluntas, 23 Maret 2000 –ketika harga gabah turun)

Cerita sang Bantal

Malamku tiada pernah sepi

Kupingku tiada henti mendengarkan keluhan jiwamu

Hatikupun terkoyak mendengar jeritanmu

Apa yang bisa kubuat?

Tetes air matamu membasahi bajuku

Asin bercampur pedih

Dalam tidurmupun otakmu bekerja

Terserap semua yang kaupikirkan dalam barisan ragaku

Tergambar jelas jiwamu

Ya , jiwamu yang takut

Terhimpit oleh susahnya hidup ini

 

Kau cerita padaku ;

Harga listrik naik

Harga bbm naik

Sekolah tiada lagi ada subsidi

Sebentar lagi tarif angkutan umum bakalan naik

Dan apalagi yang bakalan naik

Aku?

Aku naik, naik pohon apa?

Pohon kepedihan, jelas itu!

Aku malu kau lihat begini terus, bantalku

Besok, apalagi yang kau mau ceritakan padaku

Aku tiada pernah bosan dengar keluhanmu,

Tapi aku sedih; bisa buat apa aku ini?

Jakarta, 23 Maret 2000

 

Surat Buat Kawanku Sang Koruptor Besar

Aku heran dengan wajahmu

Setiap hari masih tetap putih saja

Cerah dan tiada mendung menggantung

bagai bayi yang tiada pernah berdosa

Tiada tahu aku hatimu

Kau janji mau kembalikan uang rakyat

Oh, maaf, uang negara

Sampai sekarang belum kau penuhi

Kapan????

Sampai kapan kau bakalan sadar?

Tindakmu menyengsarakan rakyat kecil

Mana hatimu?

Mana jiwamu?

Tiadakah lagi akal budimu?

Tiadakah lagi kemanusiaanmu?

Ataukah sekarang yang tinggal cuman badan dan nyawamu?

Jadi tiada lagi berbeda dengan anjingku yang manis itukah?

O, maaf kawanku

Bukankah kawan anjing adalah anjing juga atau anjing juga bisa punya kawan manusia?

Ya, gimana dong sekarang?

Mestikah kau biarkan masyarakat kecil menanggung dosamu?

Mestinya kau bayar lunas semua penderitaan kawan-kawan kecilmu yang tiada pernah bisa menikmati hamburgernya MC Donal

O’kawanku!!!!

Jakarta, 23 Maret 2000

Senyumlah karena pagi ini indah

Indah pagi mengusir malam

Cerah sinar mentari secerah wajahmu yang manis

Terpancar menembus jantung  hati ini

Memasuki rongga-rongga jiwa

Menghangati segenap pembuluh kasih

Lembut, namun kuat menggetarkan kalbu jiwa ini

Segarnya pagi ini menyusup melampaui ambang waktu

Tergambar anganku akan hari yang bakal kulalui

Pelan, tertatih namun yakin kususuri hari ini

Satu persatu terbentang peristiwa

Mengiring langkahku

Merapati hariku yang tiada pernah sepi

Membuai anganku dalam sebuah lautan cita

Yang terlukis dalam gelombang alunan ombak cinta

Dingin, membasahi tubuh jiwa ini

Gejolak dan geretak setiap batin membual bersama sinar mentari

Yang terasa semakin membara

Membakar hati setiap manusia

Semilir udara pagi ini membelai anganku itu

Dalam getar dan manis hariku

Oh indahnya pagiku

--biarlah manismu kunikmati “pagi” ini--

Senyummu yang manis

21 September 2000

Senyummu tiada dapat kulupakan

Cantik parasmu membuatku terpesona

Bagaikan rembulan yang tampak dari jauh

Cerah wajahmu menerangi setiap sudut hati

Yang sedang dirundung gelisah

Hati tiap insan tiada akan pernah

Tahan menatap cahyamu

Yang senantiasa memancarkan sinar harapan

Oh sang pembawa kehidupan bawalah diriku mengikuti alurmu

Buatlah tiap insan merasakan kegembiraan yang kau tawarkan

Biarlah senyummu menerangi hidup ini

Memenuhi gelisah hati yang sedang nikmat tinggal di beranda jiwa-jiwa

Semalam aku rasakan getir

Ketika aku lihat bumi kepanasan terbakar

Terbakar oleh panasnya amarah setiap insan yang memendam dendam

Panasnya bumi tersengat murka mereka

Jiwa-jiwa tiada pernah merasa tenteram

Mendengarkan senandung kematian di setiap sudut bumi

Wajah bulan tampak masam dan muram

Menyaksikan hitamnya hidup

Hati ini mendambakan senyummu kembali

Tiada pernah aku rasakan manis hidup ini

Dalam kegembiraan

Yang bisa dirasakan bersama oleh tiap insan

Satu-satunya harapanku adalah munculnya wajahmu yang begitu lembut dan manis

Bagaikan bayi yang tiada dosa di lubuk hatinya

Tiada prasangka mampir di hatimu

Tiada curiga terpancar dimatamu

Tiada dendam terbenam di dadamu

Oh sang pembawa kehidupan

Buatlah hidupku menjadi cerah secerah wajahmu

--Saat kurasakan gelisah menyelubungi bumi ini

Sang pengembara

Sept.25’ 2000

Sembari menutup mulut

Aku menatap dari kejauhan

Tiada yang tahu dimana aku ada

Tiada satu insan pun peduli

Kemana aku pergi

Aku pandangi langit yang hitam tiada sinar cerah di wajahnya

Hatiku pun semakin gundah

Merenungi kepergianku yang tiada arah dan tujuan

Di tepi bukit itu aku merasa sendiri

Tiada kawan yang mengiringiku

Angin pun enggan mendekatiku

Panas merayap dari kakiku ke kepala

Binatang gentar menyapaku

Aku , sang pengembara yang sedang menuju tepian dunia

Memandang ke kejauhan, bumi yang sedang bergejolak

Tiada rasa takut dan gentar menempel di raut wajahku yang kusam dan keras

Dedaunan bergesek berbisik sambil memperhatikan keberadaanku

Senyap terasa menyelimuti bukitku

Lalu senandung kematian terucap dari mulutku

Lirih namun sekuat badai guruh menembus jantung langit

Awan terbelah tak kuasa menahan sakit tertembus kidungku