Cepatnya usia menarch, merebaknya fasilitas yang menyediakan info seks tidak benar, mengakibatkan banyak remaja merasa biasa dengan hubungan seks saat pacaran. Bagaimanakah para orangtua mesti menyikapi hal ini?
Sudah tiga tahun ini Ningrum berpacaran. Selama waktu itu pula dia merasa Nando, pacarnya ini bakal suaminya. Karena itu, tanpa ragu, ketika mereka sedang berduaan, dunia seolah hanya milik mereka. Gejolak muda pasangan usia dua puluh tahunan ini selalu saja sulit ditahan.
Setiap kali bertemu, ciuman mulut selalu menjadi bumbu. Bahkan lebih dari itu, tangan Nando bakal kemana-mana. Maksudnya, mulai meraba seluruh tubuh Ningrum, melepas baju, celana dan dengan telanjang bulat keduanya bercumbu.
Tanpa ragu kedua insan ini melakukan hubungan seks. Tindakan yang tidak seharusnya dilakukan oleh orang yang baru pacaran. Mereka tahu harus bagaimana supaya tidak hamil.
Sayang, karena alasan yang tidak bisa dijelaskan, Nando akhirnya memutuskan hubungan yang sudah dijalin begitu jauh dan dalam ini. Hati Ningrum remuk redam. Harapannya pupus, sementara dia sendiri merasa sudah tidak ‘suci’ lagi.
Separuh Pelajar SMP Papua Aktif Secara Seksual
Kasus yang dialami Ningrum bukanlah hal luar biasa lagi di mata kita. Sejak merebaknya kasus VCD Itenas, film yang dibuat oleh sepasang mahasiswa dari sebuah Universitas di Bandung saat mereka melakukan hubungan seks ini, menjadi pertanda jelas betapa remaja dan anak muda jaman sekarang sudah tidak lagi seperti remaja zaman orangtuanya dulu.
Survei yang dilakukan Depkes di tahun 1996 di Jawa Barat dan Bali memberi informasi jelas. Sekitar 1,3 persen responden wanita kota dan 1,4 persen remaja putri di desa di Jawa Barat serta 4,4 persen responden wanita kota Bali melaporkan telah berhubungan seks sebelum pernikahan.
Di Surabaya terlebih lagi. Menurut survei yang dilakukan LIPI tahun 1998, sekitar 2,3 persen pelajar perempuan sekolah lanjutan atas dan 7 persen pelajar laki-laki diketahui telah berhubungan seks sebelum nikah.
Maka jangan heran, bila tiba-tiba seorang ibu bisa-bisa menemukan kondom di tas sekolah anaknya. Hubungan seks saat pacaran sudah menjadi barang biasa. Ciuman dan segala pernak-pernik perilaku seksual dianggap sebagai bumbu penyedap. Tanpa ciuman, rabaan, pacaran terasa hambar buat mereka. Widi (samaran), mahasiswi usia 22 tahun ini menyebut “Itu kan hal biasa, Mas. Siapa sih, anak muda sekarang yang gak ciuman kalau pacaran. Gak mungkin lah ya kalau cuman ciuman aja. Lebih dari itu, pasti banyak,” ujarnya.
Widi, sendiri mengakui dengan malu-malu, setidaknya dia pernah beberapa kali melakukan petting atau menempelkan kelamin mereka satu sama lain untuk merangsang secara seksual satu sama lain. Aktivitas seperti itu, masih dianggap wajar buat Widi.
“Tapi aku tetap jaga jangan sampai terjadi hubungan seks, Mas. Barang satu ini mesti dijaga dulu. Siapa tahu, suamiku bukan pacarku yang sekarang ini. Walaupun nafsu kadang susah ditahan, “ jelasnya lagi. Widi hanyalah salah satu dari sekian banyak anak muda yang menganut seks sebatas petting ok juga, lebih dari itu no way.
Masih banyak anak muda lain yang lebih parah dari Widi. Bahkan perilaku seks bebas sudah bukan lagi menjadi monopoli para mahasiswa dan eksekutif muda yang masih lajang. Remaja belasan tahun pun sudah banyak yang melakukan.
Studi terakhir yang dilakukan PPK-UI (2003) dan UNICEF menunjukkan data yang jelas. Sekitar separuh dari para pelajar SMP di Papua sudah aktif secara seksual.
Perilaku kencan umumnya berupa percakapan, memegang tangan, dan berpelukan. Sepertiga dari mereka melaporkan pernah berciuman (pipi, bibir). Beberapa (17 persen) pernah meraba wilayah kelamin, dan 8 persen pernah melakukan petting tanpa penetrasi.
Dalam hal kontak seksual awal, lebih dari sepertiga, sekitar 38 persen mengaku pernah berhubungan seks saat usia 13-15 tahun. Dan pasangan seks pertama mereka berusia sebaya antara 13-15 tahun juga.
Dr. Boyke Dian Nugraha, Sp.OG, dalam sebuah seminar bercerita bahwa dia pernah ditanya oleh seorang remaja SMP. Gadis belia usia empat belas tahun itu bertanya,” Bagaimana oral seks yang enak, dok?”. Tentu pertanyaan ini mengagetkan sekali.
Bahkan ada sebuah pertanyaan yang nadanya menggugat muncul dari seorang anak gadis usia tujuh belas tahun,” Kenapa cowok boleh berpoligami, kita gak boleh, ya dok?”
Usia Menarch Dini
Sebagai seorang ahli kandungan, Boyke menyimpulkan kalau remaja jaman sekarang memang sudah sangat berbeda dengan remaja jamannya dulu. Menurutnya, ini adalah akibat usia menarch yang dini. Kalau sepuluh tahun lalu, remaja baru akan mengalami menstruasi saat usia tujuh belas tahun. Sekarang ini, usia tiga belas tahun, saat anak masih duduk di kelas satu dan dua SMP, sudah mengalami menstruasi.
Lebih dari itu, kondisi social saat ini sudah jauh berkembang. “Adanya pergeseran norma social yang muncul akibat majunya teknologi informasi mempengaruhi semuanya,” jelas dokter dari Klinik Pasutri ini. VCD porno bisa didapat di mana-mana, informasi dari internet bisa diperoleh dengan mudah, buku dan majalah yang tidak bisa dipertanggungjawabkan isinya dari segi pendidikan seks banyak merebak di mana-mana.
Tidak heran bila penelitian yang dilakukan Klinik Pasutri Jakarta menyebutkan, hampir 100 persen remaja atau anak SMA sudah melihat atau menonton gambar-gambar porno, baik itu dari internet, VCD, atau buku-buku serta kartu porno. Ini adalah gerbang buat mereka memulai aktivitas seks sebelum nikah.
Retno (39), seorang ibu rumah tangga mengaku agak khawatir menghadapi anaknya yang sudah kelas tiga SMP. Dia pernah menemukan jejak alamat situs yang pernah dilihat anaknya di internet yang dipasang di rumah.
Sudah dua bulan ini, internet dicabut untuk mengurangi kekhawatiran itu. “Tapi, apakah tepat ya. Soalnya kan warnet sekarang sudah ada di mana-mana. Kita gak bisa kontrol,” jelas karyawan sebuah Bank ini.
Pengalaman yang senada banyak kita temui. Para orangtua sering tidak tahu harus bagaimana. Kadang-kadang saking bingungnya, anak dimasukkan asrama saja, khususnya asrama yang kental dengan pendidikan agamanya. Tindakan seperti ini dianggapnya akan aman dengan sendirinya. Padahal belum tentu.
Boyke mengungkapkan bahwa satu-satunya jalan yang tepat adalah dengan memberikan pelajaran yang benar serta terbuka mengenai seksualitas pada anak.
“Jangan takut dengan persoalan tabu. Pendidikan seks yang benar dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat kita dapat mengurangi konflik dan mitos salah yang selama ini berkembang. Pengetahuan ini akan membantu anak mampu bersikap dewasa dengan sendirinya,” jelas Boyke.
Menurut Boyke remaja harus tahu organ-organ seksnya, bagaimana menggunakannya, memeliharanya, dan tahu berbagai macam akibat yang bakal timbul bila tidak menggunakan dengan semestinya.
Pengguguran kandungan (aborsi) di Indonesia sekarang ini tercatat sampai tiga juta kasus setiap tahun. "Hampir separuhnya atau 15 persen di antaranya, aborsi dilakukan remaja,” jelas Boyke.
Boyke mengatakan, tingginya kasus aborsi pada remaja itu adalah akibat tidak adanya pendidikan seks dan kesehatan reproduksi terhadap kaum remaja
Akibatnya, aborsi yang kebanyakan dijalankan secara tidak benar itu menjadi salah satu penyebab tingginya angka kematian ibu (AKI). Sekarang ini AKI di Indonesia bahkan tertinggi se-Asia Tenggara. @
Orangtua Harus Jadi Teman
Pendidikan seks yang benar adalah langkah tepat untuk menghindari adanya seks bebas. Begitulah saran Dr. Boyke. Sayang, tidak semua remaja dan anak muda akan dengan mudah menerima penjelasan apalagi nasihat dari orangtuanya.
Dewi (39) sempat mengeluh karena anaknya yang sudah menginjak kelas satu SMA susah diajak bicara. “Boro-boro diajak belajar soal seksualitas, curhat aja gak pernah,” jelasnya.
Persoalan ini memang bukan hal yang mudah. Psikolog Dra Dyah Puspita menceritakan bahwa diterimanya omongan orangtua oleh anak-anak pertama-tama adalah karena anak merasa dekat dengan mereka.
Kalau tidak, sampai kapan pun yang dipercaya justru teman-temannya. Termasuk informasi soal seksualitas. “Saya aja belajar soal seks ini dari teman, baca novel, buku, internet, bukan dari orangtua. Habis males sih ngomong ginian ama Mama,” begitu ungkapan Brian, pelajar kelas tiga SMA.
Maka, tidak heran bila orangtua kesulitan memberi rambu-rambu, apalagi bila dalam memberikan rambu-rambu itu orangtua berkesan seperti seorang guru dan penguasa yang harus dituruti.
Siska (40), pengusaha katering yang tinggal di Kelapa Gading bercerita kalau dia selalu berprinsip “Saya sebagai orangtua mesti bisa menjadi teman bagi anak-anak. Saya harus bisa mengambil hati mereka sehingga kalau ada apa-apa, mereka datangnya pada saya, bukan pada temannya atau orang lain,” jelas ibu dua anak ini.
Dengan begitu, sebagai orangtua, Siska tahu keadaan mereka dan bisa dengan mudah memberi masukan yang positif termasuk dalam persoalan seksualitas. Kebetulan sekali kedua anak Siska putri semua. Yang paling sulung, sekarang kuliah di Jepang.
“Saat yang sulung mulai pacaran, saya tanya pada dia apakah pacarnya sudah bekerja. Dia jawab belum. Lalu saya bilang, itu namanya merepotkan orangtuanya karena setiap kali pacaran berarti kan harus minta uang dari orangtuanya. Karena itu kalau pengen apa-apa tidak bisa minta ini itu.lebih baik tunggu sampai udah bekerja semua,” cerita Siska.
Penjelasan sederhana ini, menurut Siska akan masuk dalam benak dan dituruti bila mereka percaya dengan orangtuanya. Dan memang, kedua putri Siska selalu mengikuti apa yang dikatakannya.
Jelas, tidak banyak orangtua seperti Siska. Sebagian besar dengan serta akan menerapkan berbagai macam aturan tanpa berpikir bahwa hubungan dekat akan terjalin dengan sendirinya. “Padahal kedekatan dengan anak mesti ditumbuhkan sejak anak masih kecil,” jelas Dyah Puspita, psikolog dari Yayasan Mandiga. @
Beri Contoh Dulu
Seorang Bapak dalam sebuah seminar bertanya pada dokter Boyke, “Dok, bagaimana sih caranya agar anak kita bermoral?” dokter yang berpembawaan santai ini menjawab dengan cerita.
Suatu ketika Boyke memberi ceramah pada anak-anak SMA di Jakarta selatan. Dalam sebuah sesi tanya jawab dan tanggapan, seorang gadis muda berkata pada hadirin dan dokter Boyke, “Dok, bagaimana kita mau bermoral, lha yang makai kita juga bapak-bapak juga om-om,” jelas gadis usia delapan belas tahun ini.
Kekagetan tentu saja hinggap di hampir seluruh peserta termasuk sang dokter. Namun, lontaran hati itu menjadi pesan yang sangat penting buat dipikirkan lebih lanjut.
“Itu adalah pertanda kalau kita sebagai orangtua mesti berani memberi contoh dulu. Ada banyak contoh di negeri ini yang tidak baik, mulai dari artisnya, pejabat sampai orang biasa. Bagaimana anak-anak kita bisa semakin baik?!!” seru Boyke.
Lalu, Boyke membagi cerita pengalamannya sendiri mengenai kebiasaannya menyimpan VCD porno di tempat tersembunyi dimana tidak seorang pun akan tahu. “Kunci selalu saya bawa. Bahkan istri saya pun tidak tahu dimana tempat saya menyimpan barang-barang itu,” ungkapnya.@
Winarsih (mahasiswi,21)
Pengetahuan seks saya dapatkan dari ngobrol dengan teman-teman, mendengarkan radio atau televisi kalau ada pakar ngomong soal seks. Tidak pernah ayah atau ibu ngomong langsung soal seks, misalnya penis itu apa dan bagaimana, dan seterusnya.
Soal Pacaran. Mama bilang kalau kemana-mana usahain jangan berduaan aja. Setidaknya ada teman-teman lain dan jangan berpasangan semua. Bahkan kalau pacar datang apel pun, biasanya langsung diminta gabung dengan anggota keluarga lain. Kami tidak diizinkan untuk berduaan saja di teras atau tempat lain.
Terus perizinan pacaran itu muncul karena aku memenuhi syarat dari ortu. Orangtua pacarku tahu siapa aku. Sebaliknya orangtuaku juga tahu siapa dia. Jadai kedua belah pihak masing-masing tahu anaknya dengan siapa. Jadi kalau ada apa-apa, pertanggung jawabannya gampang.
Soal ciuman saat pacaran, buat saya itu wajar aja. Kayaknya mengalir begitu aja. Mulai dari pegangan, pelukan, terus ciuman. Asal masih tidak membahayakan, ok-ok aja lah. Buat saya, free seks, jangan lah ya. Kalau cuman raba-meraba masih OK, lah.@
Baby Bernitasari (mahasiswi, 21)
Sudah tiga tahun gue pacaran. Ciuman dalam pacaran itu hukumnya wajib. Hari gini mana ada sih yang pacaran gak pakai kissing? Ciuman itu kan sebagian kecil dari kontak fisik. Kadang yang dibilang kontak fisik kayak pelukan, ciuman itu kan ungkapan kasih sayang. Lebih dari ciuman, pasti ada lah ya.
Soal free seks atau seks bebas menurutku lebih mengarah ke hubungan suami istri. Ciuman menurutku tidak beresiko dibanding berhubungan seks. Hubungan seks lebih beresiko karena bisa jadi sarana menularnya penyakit kelamin, bikin hamil yang selama ini jadi aib bila belum nikah. Gue sendiri menghindari yang gituan.
Sayang banget, hari gini banyak ortu masih nganggap ngomongin soal seks itu hal tabu, termasuk orangtua gue. Selama ini sih tahu seksualitas dari buku, temen-temen, majalah-majalah dewasa.
Ortu cukup memberi kepercayaan buat gue. Karena itu, gue gak mau coba ngeseks karena memang belum waktunya. Gue juga belum siap kalau hamil. Sekaligus malu.@
Ellyana Kusuma (mahasiswi, 20)
Sekarang ini gue lagi jomblo, gak punya pacar. Dulu pernah pacaran selama tiga tahun. Kalau pacaran, biasanya kita gak kelihatan pacaran. Soalnya kalau dah datang ke rumah, biasanya disuruh gabung sama anggota keluarga lain.
Biar ada kesempatan berdua, biasanya pacarku datang pas ortu lagi kerja. Saa-saat itu biasanya kita cuma nglakuin sebatas ciuman atau pegang-pegang tangan aja. Kalau sampai telanjang apalagi ngeseks, gak lah ya.
Info seks selama ini dari pelajaran biologi di sekolah. Orangtua gak pernah ngasih khusus. Paling ngasih tahu kalau masih pacaran gak boleh gini, gak boleh gitu. Itu aja. Aku gak suka browsing situs porno atau lihat-lihat majalah porno. @
Arni (karyawati, 27)
Sekarang ini gue lagi jomblo. Sudah dua tahun lalu, putus ama pacar. Sakit juga. Abis pacaran lima tahun cukup lama juga. Udah gitu, kita waktu itu sudah kayak suami istri aja.
Tiap kali ketemu, gejolak seks muncul begitu aja. Trus jadi deh, hubungan seks. Biasanya kita lakuin kegiatan itu di hotel atau di tempat kos. Kadang-kadang di rumah, tapi itu hanya sekedar cium dan raba sana raba sini.
Buat gue, semua itu biasa aja. Gue nglakuinnya karena merasa yakin si Toni (samaran) bakal jadi suami gue. Gue gak takut dosa. Kan, kita sama-sama senang nglakuinnya. Jadi gak ada paksaan. Dosa terjadi kan kalau ada paksaan. Gitu menurut gue!
Pendidikan seks emang gak pernah gue terima dari ortu. Paling dari teman, majalah, buku, film. Gue gak nyesel sudah nglakuin begitu. Habis gimana lagi! @