Maraknya berbagai tawaran pelatihan semisal Reiki, yoga, kundalini, meditasi, prana beberapa tahun belakangan ini cukup membuat kita sedikit bertanya-tanya ada apa dengan dunia ini? Karena ternyata gejala seperti ini tidak hanya kita temui di satu daerah saja, melainkan di beberapa daerah di Indonesia.
Sebenarnya tanda-tanda mirip seperti ini sudah mulai muncul di Amerika. Bahkan jauh sebelumnya, yakni tahun 1970. Berbagai pusat spiritualitas bermunculan di negeri Paman Sam.
Namun, tampaknya Amerika pun seolah ketinggalan. Karena kemunculan gejala-gejala bangkitnya kesadaran spiritualitas ini sudah lebih dini muncul di Eropa dibanding Amerika. Tahun 1960-an, banyak warga Eropa mulai getol dengan hal semacam kartu tarot, astrologi, kegiatan chanelling, cara-cara berhubungan dengan roh, fenomena prana, riki, reinkarnasi, potensi manusia, fengshui dan lain-lain.
John Naisbitt dan P. Aburdene dalam bukunya yang berjudul “Megatrends 2000", sempat menyebutkan “Dalam jaman yang bergolak ini, di mana perubahan sangat besar terjadi di mana-mana, orang terbagi dalam dua ekstrem; fundamentalisme dan pengalaman spiritual pribad. Kelompok kedua ini tidak memiliki daftar anggota atau bahkan filosofi serta dogma yang koheren. Agak sulit untuk mendefinisikan kelompok ini atau mengukur kekuatan kelompok yang disebut gerakan jaman baru (new age). Namun, pada sebagian besar warga Amerika dan Eropa, ribuan orang mencari pencerahan dan menginginkan pertumbuhan mental secara pribadi lewat buku-buku metafisika, guru-guru spiritual yang bisa diperoleh di toko-toko ataupun pertemuan-pertemuan non formal,”
Dan lagi-lagi Indonesia menjadi negara tertinggal. Bangsa tercinta ini mulai tertular. Ketika bangsa lain sudah mulai berkembang satu tahap, barulah kemudian kita menyusul.
Hal yang sama tampaknya juga berlaku pada gerakan yang disebut sebagai new age ini. New Age adalah sebuah gerakan heterogen dari setiap pemeluk agama yang berupaya mencari hal-hal lain di luar agamanya. Gerakan ini tidak terpusat, tanpa dogma, tanpa kitab suci, juga kartu anggota.
Jenuh dengan Agama
Dosen filsafat timur dan filsafat budaya pada Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, Prof. Mudji Sutrisno pernah menyebutkan bahwa gerakan semacam ini merupakan sebuah tanda dimana orang mulai jenuh dengan yang namanya agama.
Agama mengalami suatu titik dimana dalam banyak hal tidak bisa menjawab kerinduan pemeluknya. Tidak heran pula pendapat seorang wartawan ini terdengar di telinga kita “Saya sudah bosan dengan berbagai ritual agama yang saya anut yang menurut saya semakin berbelit dan menjadi tidak bermakna. Saya mencari sesuatu yang lebih dari itu. Dan itu saya dapatkan dengan mengikuti berbagai macam kegiatan dengan mendalami yoga, berbagai macam cara meditasi, belajar tentang budha, islam, fengsui, dan lain-lain yang semacam” jelas Anto.
Berbeda dengan Anto yang tidak menjadi anggota tetap dari suatu kelompok tertentu, Ulung yang juga moderator Kelompok Kajian Alam Semesta menyebutkan bahwa keikutsertaannya pada grup sharing dan diskusi tentang semesta ini merupakan bagian dari pencarian spiritualnya.
“Saya justru mulai dengan mendalami apa yang kita sebut ngaji, shalat lima waktu dan belajar Al quran. Mulai dari situ berkembang ke hal-hal lain. Yang jelas, saya mengakui bahwa agama yang saya anut memang tidak memberi jawaban yang memadai atas apa yang selama ini saya cari,” tegas pria usia 30-an tahun ini.
Seorang pria usia 50-an tahun bernama Kusubandiyo mengungkapkan bahwa keikutsertaannya dalam kegiatan meditasi serta dikusi di House of Peace, Jl. Erlangga, Jakarta merupakan bagian dari upayanya mencari makna hidup dan kebahagiaan.
“Memang sih, belum terpenuhi. Tapi saya merasa ada banyak jawaban yang memenuhi hati saya dimana agama tidak bisa melakukannya untuk saya,” terangnya.
Menurut pengamatan Ulung, biasanya teman-temannya yang mengikuti kegiatan diskusi ini sebelumnya sudah banyak belajar dan mendalami berbagai macam hal mengenai agamanya masing-masing.
Mereka bahkan cenderung tidak hanya mengikuti satu kelompok saja, melainkan beberapa kelompok kajian. Anto misalnya menyebutkan bahwa dirinya kadang-kadang ikut kelompok yang dimoderatori Ulung ini, Kelompok Kajian Alam Semesta.
Ini adalah sebuah kelompok yang mempelajari, mengkaji dan mendiskusikan berbagai persoalan spiritualitas dikaitkan dengan keadaan alam semesta ini secara riil. Misalnya memahami pengaruh bulan purnama pada keadaan seseorang.
Lain waktu anto mengikuti diskusi bersama praktisi parapsikologi dengan kelompoknya yang disebut Metafisika Study Club. Kesempatan lain lagi bersama teman-temannya melakukan diskusi dan sharing tentang Celestine Prophecy. Yayasan Seni Kehidupan (Art of Living) yang berguru pada tokoh India Sri Sri Ravi Shankar di datanginya juga. Dan masih ada beberapa kelompok yang berbeda lagi.
Bangkitnya Kesadaran
Apa sebenarnya yang tidak terjawab dari agama? Setidaknya pengalaman Anto ini bisa dicatat. “Agama yang saya anut tidak pernah mengajarkan dan bahkan menentang yang disebut reinkarnasi. Ketika saya mempelajari dan memahaminya, saya menjadi yakin kemudian bahwa ternyata surga dan neraka bukanlah tempat untuk menghukum atau mengganjar seseorang. Surga dan neraka kita ditentukan oleh kita sendiri,” jelasnya dengan tegas.
Bukan tempatnya kalau sekarang ini dijelaskan lebih lanjut mengapa Anto berpendapat demikian. Yang penting, ungkapan ini menandakan adanya kepuasan yang muncul setelah jawaban diperoleh.
Narapatrianila, seorang pemred dari sebuah majalah di Jakarta menyebutkan bahwa kita tidak pernah diberi penjelasan tentang mengapa kita mesti memaafkan atau mengapa manusia harus bersyukur pada Tuhan kecuali sebuah jawaban yang menyebutkan bahwa itu adalah kewajiban kita sebagai makhluk ciptaan.
Berbagai persoalan seperti pernikahan homoseksual atau lesbi, bayi tabung, penyembuhan lewat tubuh bioplasmik, menurut Nara tidak pernah dijelaskan bahkan oleh kitab suci sekalipun. “Pastor atau Ustad pun sering tidak paham dengan persoalan-persoalan itu,” tegas pria asal Yogyakarta ini.
Maka, lewat berbagai forum diskusi dan sharing serta bacaan terutama yang terkait dengan spiritualitas dan filsafat timur banyak hal bisa terjawab dan tepernuhi.
Tidak mengherankan bila Prof. Dr. Magnis Suseno, ahli filsafat sosial juga pernah menyatakan bahwa keberadaan ilmu filsafat salah satunya adalah untuk membantu kita untuk memahami banyak hal yang tidak bisa dijelaskan oleh agama. Persoalan seperti bayi tabung, homoseks, euthanasia, dan masih banyak persoalan lagi yang baru.
Lalu kalau semua sudah terjawab, apa selanjutnya? Pertanyaan yang cukup menohok itulah yang akhirnya memang harus dijawab oleh para penggiat gerakan spiritualitas ini.
Bagaimana pun kepuasan hati tidaklah mencukupi untuk menjawab seluruh peziarahan yang dijalani, bahkan sampai bertahun-tahun. Karena memang sebagian besar mereka yang aktif dalam kegiatan spiritualitas ini menjalani pencarian yang panjang akan arti dan makna hidup.
Dalam diskusi sebuah milis spiritualitas pernah disebutkan bahwa kegiatan pencarian berbagai hal mengenai hidup ini pada dasarnya hanyalah memenuhi sifat ingin tahu kita sebagai manusia.
Yang lainnya menyebutkan bahwa pengetahuan yang didapat misalnya tentang energi manusia, telepati, kekuatan pikiran manusia dalam menyembuhkan dan lain-lainnya memberi peneguhan bahwa manusia itu memang citra Tuhan. “Ini adalah sebentuk kesadaran yang sangat berarti buat saya,” tulis seorang pria yang tidak mau disebut namanya.
“Mengapa saya harus mencintai dan berbuat baik, dalam agama saya tidak dijelaskan. Kalaupun dijelaskan kurang memenuhi kepuasan hati saya. Setelah saya paham dan mengerti, langkah saya semakin mantap untuk mencintai dan berbuat baik,” jelas Anto.
Jadi, bisa dikatakan bahwa berbagai gerakan spiritualitas yang muncul bagaikan bunga di musim semi ini sebenarnya tidak lain adalah gerakan pembangkitan kesadaran.
“Saya semakin sadar dan memahami bahwa hidup saya ini hanyalah sebuah sekolah, tempat dimana saya melatih diri saya sebagai manusia, melatih kesabaran, rendah hati, jujur, dan lain sebagainya,” tegas Anto.
Agama apa pun memang mengajarkan semua hal itu. Namun, menurut Anto, kekurangannya terletak pada bagaimana agama menjelaskan semua itu secara gamblang dan detail apa maksudnya dan mengapa mesti dijalankan.
Tidak heran pula bila Prof. Mohammad Sholeh, guru besar pada Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya menyebutkan bahwa di masa depan, banyak misteri agama (misalnya tentang puasa, mengapa berbuat baik, mengapa harus membaca kitab suci) yang dijalani selama ini harus bisa dijelaskan secara rasional. “Mengapa harus shalat, bagaimana shalat bermanfaat bagi pelakunya, dan lain sebagainya akan ditanyakan orang,” ujar pria yang pernah meneliti manfaat shalat tahajjud dalam meningkatkan system kekebalan tubuh.
Seorang pastor yang juga spiritualis dari India Anthony de Mello pernah menyebutkan, kesadaran adalah inti spiritualitas. Pengetahuan, membantu bangkitnya sebuah kesadaran. Orang yang sadar akan tahu diri dan tahu bagaimana menempatkan dirinya di hadapan sesamanya dan alam lingkungannya. Ooooo begitu toh! @