Posted by abdi on Sep 3, '07 6:58 AM for everyone

Lupa dengan frekuensi tidak terhitung adalah pertanda menurunnya daya ingat. Pikun atau demensia, terutama yang tidak bisa diperbaiki ternyata bisa diobati dengan sedikit kemajuan. Namun lebih dari itu, mencegahnya adalah langkah yang terbaik

Hitunglah dalam sehari Anda mengalami lupa sampai berapa kali. Lalu, perhatikan usia Anda. Bila Anda masih muda, kira-kira usia 40 tahun ke bawah, masih dimaklumi kalau lupa satu atau dua kali saja. Mungkin karena Anda kurang konsentrasi, ada banyak masalah sehingga banyak hal dilupakan.

Tetapi, kalau lupa terjadi berkali-kali, itu tandanya terjadi penurunan daya ingat. Bila tanda-tanda pikun dialami, mesti hati-hati. Sebab bila dibiarkan, di usia yang lebih tua lagi nantinya akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, baik buat diri sendiri maupun orang lain.

Pusatnya di Otak

Pikun atau bahasa medisnya demensia adalah penyakit yang pusat persoalannya ada di otak kita. Menurut Dr. Sukono Djojoatmodjo Sp.S, pikun disebabkan oleh adanya kerusakan pada sel-sel otak. Akibatnya terjadi penurunan daya ingat. Kondisi ini bisa berlangsung cepat atau lambat, tergantung kerusakannya.

Penurunan daya ingat berlangsung mulai dari keadaan lupa sekali-sekali, misalnya lupa dengan kaca mata atau mengingat suatu tempat. Keadaan ini disebut very mild cognitive decline.

Seiring bertambahnya usia, terutama di usia 50-an, keadaan ini bisa menjadi MCI (mild cognitif impairment). Ini terjadi akibat mengisutnya otak yang tadinya 1,3 kg menjadi 1,2 kg karena kadar airnya menyusut.

Bila sudah mencapai tahap ini, sebaiknya Anda musti hati-hati. Bisa jadi keadaan akan semakin berkembang ke situasi yang disebut Moderate cognitive decline/impairment. Ini yang disebut Anda sudah mulai pikun.
Dr. Sukono menyebut, untuk menghalangi kepikunan ini Anda musti menjalankan pola hidup sehat. “Berhentilah merokok, makanlah dengan gizi seimbang, hindari minuman beralkohol, hindari stress, rutin berolahraga dan teraturlah untuk melakukan rileksasi,” ujar spesialis saraf dari RS Mitra Internasional, Jatinegara, Jakarta.

Namun bila sudah terlanjur pikun, segeralah anggota keluarga berupaya supaya penderita menghilangkan kebiasaan yang tidak sehat. Biarkan penderita menggiatkan diri dengan aktivitas membaca, menulis, mengisi teka-teki silang, terus aktif dalam lingkungan sosial, dan mengasup makanan sehat. Usahakan jangan sampai terkena penyakit yang mengganggu fungsi otak semisal stroke, diabetes, dan pengapuran pembuluh darah.

Secara klinis kerusakan sel otak pada penderita pikun atau demensia ditunjukkan dengan gejala terlihatnya buru-buru dalam mengambil keputusan sehingga tampak bodoh, perilaku yang berbeda seperti sebelumnya dan bisa jadi agak kekanak-kanakan serta terlihat pli plan. Penderita juga tampak kesulitan menangkap ide baru atau adaptasi dengan situasi baru.

Kecepatan otak dalam memproses informasi semakin lambat. Pengiriman informasi atau instruksi sering tidak tepat. Akibatnya kita sering frustasi bila berhadapan dengan penderita. Pola berpikir yang mundur dan kaku ini tidak jarang membuat kita menganggap mereka  sebagai “si tua yang bebal”.

Kerusakan memori ini dikenal dan sering dianggap sebagai satu-satunya gejala demensia. Padahal masih ada lagi gejala yang lebih parah. Misalnya penderita kadang membicarakan orang-orang yang sudah meninggal seolah masih hidup. Payahnya lagi, emosi penderita menjadi labil atau penderita menjadi pribadi yang lain dari dirinya. Harus hati-hati menghadapi orang semacam ini.

Dua Macam Demensia

Pada dasarnya, Dr. Sukono menambahkan, ada dua macam demensia atau pikun . Demensia yang bisa diperbaiki atau reversible dan demensia yang sulit diobati atau irreversible. Demensia yang bisa diperbaiki biasanya penyebabnya antara lain; terlalu banyak konsumsi alcohol, adanya infeksi akibat virus, bakteri dan jamur di otak, kejadian perdarahan di bawah selaput keras otak (subdural hematoma), penimbunan cairan dalam ventrikel otak (normal pressure hydrocephalus), dan keadaan kurangnya aktivitas kelenjar gondok (hypothyroidsm).

Untuk demensia yang tidak bisa diperbaiki, biasanya terjadi akibat penyakit yang disebut Alzheimer, demensia yang ditandai dengan rusaknya beberapa organ termasuk otak (multi-infark dementia) semisal stroke, dan lewy body dementia.

Bila gejala menurunnya daya ingat ini menimpa Anda sendiri, segeralah membicarakan hal ini dengan dokter syaraf. Dokter akan memberikan tes untuk mencari tahu apakah Anda terkena demensia atau tidak. Sedini mungkin Anda menyatakan masalah ini ke dokter, sesegera mungkin dokter akan membantu Anda.


Anda bisa melakukan latihan yang disebut senam otak setiap saat. Gerakan intinya adalah menyilangkan tangan dan kaki secara bergantian. Langkah ini dapat membantu menyeimbangkan kemampuan otak kiri maupun kanan.


Dan bila yang mengalami tanda-tanda demensia ini adalah salah satu anggota keluarga atau teman Anda, cobalah untuk membawanya ke dokter. Anda bisa menceritakan gejala yang ada ke dokter terlebih dahulu sebelum saudara Anda bertemu si dokter. Setelah ketemu, barulah ceritakan segala hal secara detail termasuk cara bertindak dan perilakunya.


Biasanya dokter akan melakukan beberapa langkah. Antara lain mencari tahu riwayat perjalanan penyakit, pemeriksaan fisik, pemeriksaan psikoneurologis, tes laboratorium, cek EEG (elektro ensepalogram), dan CT-Scan atau MRI.


Pemeriksaan fisik biasanya meliputi penilaian domain kognitif, misalnya dengan meminta pasien menyebutkan nama organ tubuh atau objek yang ditunjuk, meminta pasien memeragakan suatau gerakan misalnya cara memukul dengan palu atau cara menyikat gigi, meminta pasien untuk menebak barang semisal koin di tangan dengan mata tertutup, dan beberapa tes lain misalnya pasien diminta memungut kertas yang ditaruh di lantai dan melipatnya menjadi setengahnya.


Tugas terakhir ini bisa jadi sulit buat penderita yang sudah mengalami penurunan kemampuan dalam merencanakan sesuatu, berinisiatif, membuat urutan, dan berperilaku aneh.

“Untuk jenis demensia yang bisa diperbaiki, dokter akan memberi pengobatan sesuai dengan penyebabnya. Sementara untuk penderita yang mengalami demensia yang sulit sembuh, dokter akan memberi obat golongan Donepezil, Galantamine, dan Rivastigmine,” jelas DR. Sukono.


Menurut penelitian, perawatan dengan cholinesterase inhibitor ini menyebabkan penurunan gejala yang cukup bagus, stabilnya kemampuan kognitif untuk sementara waktu, dan berkurangnya gejala menurunnya kemampuan kognitif pada beberapa pasien Alzheimer. 

Sekitar 20 sampai 35 persen pasien yang mendapat perawatan dengan obat ini didapati menunjukkan kemajuan nilai tujuh poin dari tes neurofisiologis yang dijalaninya. Sebelum perawatan dengan obat ini dijalankan, biasanya dokter akan menjelaskan manfaat obat jenis cholinesterase inhibitor ini kepada pasien dan keluarganya. @

 

Tak Ada Obat yang Sempurnakan Otak

Menurut ahli gizi Dr. Luciana B. Sutanto MS, beberapa vitamin semisal B12, asam folat,  B6, vitamin C, B2 sangat penting dalam meningkatkan kemampuan berpikir abstrak nonverbal di otak kita.


Begitu pula dengan konsumsi vitamin E. Kombinasi vitamin E dan C sangat penting dalam peranannya sebagai antioksidan penghancur radikal bebas di tubuh yang juga ikut menyerang sel otak. Dalam hal ini vitamin E.bermanfaat melarutkan lemak dalam otak.



Sementara itu, selain sebagai antioksidan, vitamin C diperlukan untuk memproduksi hydroxyproline, suatu komponen kolagen yang berperan penting dalam memperkuat pembuluh darah serta membuatnya lebih lentur. “Agar otak menjadi kuat, konsumsilah vitamin E 200 - 800 IU tiap hari, ditambah vitamin C sekitar 500 IU,” jelas Sukono.


Dr. Luciana menambahkan, selain beberapa vitamin ada asupan unsur-unsur lain yang bagus juga untuk ota, misalnya Omega-3 atau asam lemak tak jenuh majemuk (mengandung EPA = eikosapentaenoik dan DHA = dokosaheksaenoik) juga dianjurkan.


Asam lemak menekan proses terjadinya penggumpalan darah, sehingga pengapuran pembuluh darah dapat dihambat. Bahan ini ditemukan pada ikan laut seperti tenggiri, sarden, tuna, dan kakap.


Tidak salah pula bila Anda menggunakan suplemen mengandung ginko biloba. Suplemen ini berperan dalam menghindarkan kita supaya tidak mudah pikun. Kerjanya menghambat sel-sel bekuan darah, memperlancar aliran darah, meningkatkan toleransi terhadap kondisi kurang oksigen, serta mencegah kerusakan selaput sel akibat pengaruh radikal bebas.


Sukono menambahkan, obat penurun kadar kolesterol yang mengandung statin, menurut penelitian, mampu mencegah kepikunan. Demikian juga dengan obat golongan NSAID (non steroid antiimflamatory drugs) atau obat anti-peradangan serta terapi hormon pada wanita menopause.


Namun sebaiknya asupan-asupan itu tidak boleh ngawur. Konsultasikan pada dokter sebelum menggunakannya. "Minum obat ada batasnya, tidak boleh ngawur atau berlebihan." Ingat! Tidak ada makanan atau suplemen khas yang bisa menyempurnakan kerja otak. Yang ada adalah yang menunjang kesehatan otak! @

 

Tanda-tanda Demensia

Munculnya demensia pada seseorang menimbulkan banyak masalah, tidak hanya buat penderita melainkan juga anggota keluarganya. Sebagian besar masalah muncul akibat hilangnya ingatan. Beberapa gejala demensia bisa disebutkan di sini. Tidak semua penderita demensia akan menunjukkan semua gejala yang ada.

1.Disorientasi dan masalah ingatan.
Disorientasi bisa jadi berupa lupanya penderita pada arah mata angin, jam, waktu, termasuk lupa jalur pulang ke rumahnya, dan lain-lain. dalam sebuah percakapan, ada kecenderungan untuk bertanya pada satu hal secara berulang-ulang. Penderita tidak bisa mengingat jawaban yang diberikan bahkan selalu lupa dengan pertanyaannya sendiri. Perawat atau penjaga penderita demensia harus sabar dan hati-hati. Lebih baik tidak berargumentasi atau mengoreksi kesalahan-kesalahan yang dilakukan penderita. Bisa jadi menyebabkan Anda sendiri frustasi. Pasien akan mudah tersinggung dengan sikap itu, menjadi agresif dan menarik diri dari pergaulan.

2. Agresif, berubahnya mood setiap saat, dan kepribadian yang berubah.

Perilaku agresif ini mirip yang biasa dijalani para pasien penyakit jiwa. Kecenderungan ini muncul kadang-kadang saja saat penderita merasa takut atau terancam misalnya kecenderungan untuk keluar rumah dan meninggalkan rumah, padahal ada anak-anak yang mesti dijaga. Kalau diingatkan, mereka akan cenderung mudah frustasi dan marah atau cepat menangis.

Mood atau keadaan hati mereka juga mudah sekali berubah. Bila marah bisa langsung reda. Demikian bisa jadi tiba-tiba menangis dan langsung diam. Karena itu, kita seringkali menyebutkan bahwa kepribadian mereka menjadi lain dari sebelumnya.

3. Gangguan Tidur.
Penderita lebih baik menjalani aktivitas yang sederhana dan lebih banyak istirahat, apalagi bila usianya sudah uzur. Di malam hari cahaya lampu yang dinyalakan sepanjang malam akan membantu mengurangi kesulitan mengenali barang-barang di sekeliling.

Obat tidur perlu juga untuk membantu mereka memelihara pola istirahat. Namun, jangan sampai dipakai dalam waktu yang lama, walau penggunaan obat ini tidak bisa dihindari.

4. Kesulitan berkomunikasi.

Kesulitan berkomunikasi ini muncul karena mereka sudah lupa kata-kata atau bahasa yang mesti digunakan untuk bercakap-cakap. Bahkan bilangan pun mereka tidak ingat, apalagi kalau diminta untuk melakukan sesuatu secara berurutan. Akibatnya sering salah menggunakan kata dan apa yang diinginkan tidak tersampaikan.

Kalau sudah begitu mereka menjadi cenderung pasif, tidak punya inisiatif bahkan sensitive karena apa yang diinginkan jarang sekali tersampaikan. Mereka menjadi menarik diri dari lingkungan social dan suka menyendiri

5. Kesulitan mengenali anggota keluarga dan lingkungannya.
Hilangnya ingatan ini seringkali tidak hanya sekedar lupanya penderita pada jam, tempat dan arah yang dituju, melainkan juga tidak mengenali lingkungannya lagi, misalnya salah menempatkan setrika di kulkas, atau ingat memasak tapi lupa menyajikannya. Yang lebih parah lagi, mereka lupa dengan anggota keluarganya, misalnya istri atau suaminya, bahkan anak-anaknya

6. Kurang gizi.
Kecenderungan ini sangat mungkin terjadi pada penderita demensia. Hilangnya ingatan, menyebabkan pola makan menjadi terganggu dan mereka sering tidak tahu apakah sudah makan atau belum. Karena itu bila mereka hidup sendiri akan sangat kurang gizi keadaan mereka karena tidak ada yang mengawasi. Sebab itu, mereka perlu tambahan suplemen vitamin atau mineral seperti zat besi, dan lain-lain. @

 


echieq wrote on Jun 1
Memang betul2 berat menghadapi pasien demensia. perawat yang kami hired u/ membantu perawatannya nggak ada yang betah, biarpun sudah diberi pengarahan agar mereka tidak [erlu tersinggung, atau memasukkan ke hati kata2 yang tidak enak yang keluar dari pasien. Intinya saya pribadi sudah bingung banget, dan gak tau mo gimana lagi... Mungkin bisa bantu info perawat yang bisa bantu menghandel pasien demensia ini. Mengingat kami selaku keluarganya tidak bs 24 jam mendampinginya. terimakasih sebelumnya
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help