Bagai burung tanganmu membentang. Bagai bangau kakimu terangkat. Sejurus berarti mati, tiada angin yang bisa melawan, tiada hujan yang mampu redakan sabetan kakimu, dan gunungpun terpesona memandang indahnya jiwamu dalam balut tarianmu
Kisah Para Penggila Pencak Silat
Melestarikan pencak silat sudah mulai menjadi gaya hidup sekelompok anak muda Jakarta. Mulai dari diskusi tentang silat, berlatih, dan yang paling asyik wisata silat, menjadi bagian aktivitas utama mereka. Dari situ mereka merasa hidup pun menjadi lebih bermakna.
“Kamu mesti gila!” begitulah jawaban singkat Eko Hadi Prasetyo, saat ditanya tentang syarat bergabung dalam kelompok yang menamakan dirinya Forum Pencinta dan Pelestari Silat Tradisional Indonesia (FP2STI). “Lurah” yang menggerakkan sekelompok orang yang berniat menghidupkan dan melestarikan salah satu budaya Nusantara, pencak silat itu melanjutkan, “Ya, tentu saja kamu mesti gila silat, sehingga bakal tahan ngobrol lama soal ini, bahkan sampai larut malam.” Memang begitulah yang terjadi dengan kelompok ini. Di mana pun, di kamar tidur, teras, bus, ruang makan, atau padepokan, yang jadi bahan pembicaraan tidak lain dan tidak bukan adalah silat, entah itu dari segi gerakan maupun filosofinya.
Berawal dari Milis
Berawal dari kegelisahan yang muncul dari beberapa anak muda ketika melihat tersingkirnya perguruan-perguruan silat tradisional Tanah Air, pada tahun 2004 muncullah sebuah komunitas maya yang tergabung dalam sebuah mailing list (milis) bernama silatbogor (beginning of global oriented). Milis ini menjadi semakin marak dan ramai dengan hadirnya mantan juara dunia silat Oong Maryono yang sekarang berdomisili di Thailand dan Kang Yana (Amerika Serikat). Mulai tahun 2005, jumlah anggota yang awalnya hanya beberapa orang, makin lama makin banyak. Pertemuan awal di tahun 2005 dengan Oong Maryono yang membicarakan tentang artikel menarik berjudul Silat Sabeni yang ditulis oleh Eko Hadi, murid Ali Sabeni (anak Sabeni) memicu keberanian kelompok ini untuk terus hidup. Dari situ pembicaraan dan diskusi soal silat pun berlanjut. Akhirnya di tahun 2006, bersama beberapa orang lain di Pondok Kelapa, sebuah forum didirikan. Tanggal 10 Juni 2006 menjadi titik awal berdirinya FP2STI. Hadir dalam forum awal ini sesepuh silat tradisional, Ali Sabeni (aliran silat Sabeni), Oong Maryono (pesilat yang go international), Suhartono (pelatih di Vietnam), Gembiro (dari aliran Setia Hati), Kisawung (praktisi silat Sahbandar, H. Aziz (aliran Cikalong), dan kurang lebih 30 orang anggota milis. Dengan moto Sahabat Silat, milis yang kemudian berubah nama menjadi silatindonesia ini akhirnya berhasil mengumpulkan ratusan penggemar pencak silat. “Ya, setidaknya ada 500-an anggota yang bergabung di milis dari dalam dan luar negeri,” ungkap Eko. Kegiatan menjadi semakin rutin. Diskusi pun terus mengalir, tak hanya berseliweran lewat dunia maya yang jadi ajangnya. Pertemuan bulanan menjadi makin marak dan hangat. Pembicaraan tiada henti muncul. Mulai dari membedah silat tradisional, menginventarisasi berbagai aliran silat Nusantara, dan tentu saja membandingkan aliran silat satu dengan yang lainnya. Seperti misalnya yang terjadi bulan lalu, terjadi diskusi ramai membicarakan kesamaan antara silat Cikalong yang tumbuh subur di Cianjur, Jawa Barat, dengan aikido dari Jepang. “Wah, ternyata tidak ada bedanya, baik gerakannya maupun filosofinya,” ungkap seorang rekan. Para anggota aktif forum yang kebetulan jumlahnya belum sampai 50 orang ini pun tidak mau ketinggalan momen penting. Tiap pekan, tepatnya hari Sabtu pagi sampai siang bahkan bisa jadi sore hari, para anggota mendapat kesempatan untuk ikut berlatih silat. “Sambil mendalami sekaligus berolahraga. Jadi sehat ‘kan, Mas,” ujar salah satu anggota. Jadwal silat Sabeni, Cikalong, dan lain-lain sudah disusun. “Sampai saat ini kebetulan baru ada sembilan aliran silat yang aktif dan dekat dengan kami,” kata Eko. Harapannya, akan lebih banyak lagi aliran silat yang bisa bergabung.
Manajemen dan Publikasi
Eko menjelaskan, kegemaran pada seni silat dalam diri anak-anak muda ini memberi sumbangan positif. Tak hanya kembali menghidupkan aliran silat tradisional, lebih dari itu, dengan hadirnya anak muda berpendidikan ini, para pesilat tradisional dapat belajar mengelola kelompoknya menjadi perguruan silat yang modern dan terorganisasi dengan baik. “Kami membantu dari segi manajemen dan publikasi. Yah, belajar dari orang-orang luar negeri. Mereka justru kuat di bagian ini sehingga aikido, taekwondo, dan lain-lain bisa diminati banyak orang di sini,” sebut Eko. Terlepas dari misi yang diemban, melestarikan silat tradisional Indonesia, para anggota forum ini memang memiliki latar belakang yang beragam dan tentu saja motivasi berbeda. Ambil contoh komentar pelatih aikido aliran Kenkyunkai, Imanul Hakim. Pria berkulit putih ini menyebutkan, keterlibatannya di forum berawal dari rasa heran sekaligus kagum, ternyata silat Indonesia ada yang sama dengan bela diri asal Jepang. Lebih dari itu, filosofi silat Cikalong sama dengan aikido. “Yang jelas, tadinya saya anti dengan silat karena cenderung berbau magis. Namun, setelah melihat silat Cikalong, semua anggapan itu sirna,” ujarnya. Salim, yang biasa dipanggil Engkong, guru dari aliran silat Paseban Lama misalnya, menyebutkan di usia yang sudah uzur, 80-an tahun, rasanya tidak memungkinkan baginya untuk melatih silat lagi. Meski demikian, keikutsertaannya di forum diakui membuatnya bergairah karena banyak anak muda yang hadir di situ. Seorang teman lain yang tidak mau disebut namanya menyebutkan, “Belajar silat bukan sekadar agar kita sehat, Mas, juga agar bisa berteman. Dan yang lebih penting lagi adalah mengolah rasa-perasaan kita. Olah rasa bahasa Jawanya, mengolah seluruh indra dan terutama hati kita agar peka,” katanya. @
Wisata Silat Cikalong
“Sekarang ini kami membutuhkan orang yang bisa meluangkan waktunya full untuk forum,” tutur Eko. Memang kebanyakan dari anggota forum adalah pekerja, entah itu karyawan bank, wartawan, agen travel, pedagang, juga mahasiswa yang masih belajar. Akibatnya, banyak program yang ada di kepala belum dapat ditangani seperti misalnya membuat buku dan kegiatan lain. Satu program menarik yang baru saja berlangsung adalah wisata silat. “Belum pernah ada kegiatan seperti ini di Indonesia. Jadi, ini satu-satunya. Semoga kita bisa melanjutkan program ini. Untuk ini memang dibutuhkan orang yang siap untuk repot terus-menerus,” ucap Eko. Dengan tujuan utama Cianjur, kota kabupaten di provinsi Jawa Barat, kira-kira 65 km dari Bandung, wisata yang berlangsung tanggal 11-12 Mei lalu merupakan langkah FP2ST untuk mencoba mengapresiasi budaya Maenpo (pencak silat) Cikalong yang tumbuh subur di wilayah berpenduduk kira-kira 2 juta jiwa itu. Kedatangan para anggota forum ini disambut hangat oleh Bupati Cianjur dan aparatnya. Usai bertemu Bupati, perjalanan dilanjutkan ke arah Cikalong Kulon, tempat di mana silat menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat. Suguhan atraksi silat yang dimainkan anak-anak sampai orang dewasa menjadi “makanan utama”. Camat Cijagang, Cikalong Kulon pun tidak ketinggalan menyuguhkan atraksi silat Cikalong. Kenyang dengan suguhan ini, FP2ST menyambangi makam pendiri dan guru besar perguruan silat Cikalong, H. Ibrahim. Usai berdoa dan mendengar sedikit kisah pendiri Kota Cianjur, R. Aria Wira Tanu Datar, anggota forum melanjutkan perjalanan ke Goa Jilebut, tempat H. Ibrahim menyusun “kurikulum” bagi perguruan silat Cikalong yang dirintisnya. Malam harinya, ada acara yang tidak kalah menarik. Suguhan atraksi silat dari beragam aliran dan perguruan yang dilakukan oleh anak-anak dan para pendekar sepuh menjadi sajian utama di Gedung Kesenian Cianjur. Belum puas dengan semua ini, acara masih dilanjutkan keesokan harinya. Tak hanya peragaan dan permainan (ulinan), cerita sejarah dan asal muasal silat Cikalong pun mengalir lancar dari mulut para sesepuh. “Wuiiih puas, deh! Begitu setidaknya komentar teman-teman penggemar pencak silat. Betapa kayanya Indonesia. Tidak kalah dengan negeri asing!” ujar seorang rekan. Sampai di rumah masing-masing pun, tidak ada yang tahu, bagaimana bisa silat Cikalong memiliki persamaan mendasar dengan aikido, bela diri asal Jepang. Namun, tampaknya tidak penting jawaban itu. “Yang penting, budaya bangsa lestari dan banyak orang mengikuti cara ini,” ujar Eko. Dan kita pun tentu saja sehat jasmani rohani. @
silat cikalong demonstration
tomb of Grand Master Ibrahim
praying at Ibrahim's tomb
little warrior of cikalong
Mr. Bambang, Master of Cingkrik Goning
Kong SAlim, Master of Paseban Lama
President of PERSILAT, Eddy Nalapraya
Ki Sawung, in front of Jilebut Cave
|