abdi's posts with tag: aceh
Posted by abdi on Oct 22, '07 6:30 AM for everyone |  | Laporan Perjalanan ke Aceh
Selasa- Rabu, 28-29 Desember 2004 Setelah dapat perintah untuk berangkat ke Aceh, saya berusaha mencari transportasi menuju Banda Aceh. Beberapa pihak saya hubungi, misalnya Mapala-UI, Ibu Aan (humas Pemda DKI), Ibu Sinta dari posko Gereja Maria Bunda Karmel, teman-teman relawan, KWI (Konferensi Waligereja Indonesia), dan pesawat kormesial semisal garuda. Saya berusaha supaya bisa segera berangkat. Penerbangan Garuda dan maskapai lain penuh untuk hari rabu. Semua pihak yang saya hubungi menyatakan masih mengusahakan pesawat hercules. Dari humas DKI diberitahukan bahwa mereka sudah berangkat hari selasa itu. Sementara itu, KWI sudah mendapat pesawat Hercules. Menurut keterangan Rm. Ismartono, mereka tidak berwenang menentukan siapa yang bisa berangkat karena hanya bergabung dengan kelompok lain walau jadi pusat krisis. Prioritas tumpangan untuk dokter yang pintar berbahasa Aceh. Saya negosiasi dengan Rm. Ismartono yang akhirnya mengenalkan saya dengan Ibu Merri lewat telpon supaya diizinkan numpang. Rencananya mereka akan berangkat hari rabu sore. Sementara menunggu kabar, saya putuskan hari rabu itu mencoba mencari pesawat komersial. Sementara KWI (lewat ibu Merri) menjanjikan akan membawa saya hari kamisnya (penerbangan ditunda) seandainya saya belum dapat tiket. Sementara dengan teman-teman relawan, saya memastikan diri tidak jadi bergabung karena mereka juga berangkat naik pesawat komersial. Dari siang jam satu saya menunggu di ruang check in, untuk mendapat tiket pesawat Garuda ke Medan, karena urutan penumpang yang mendaftar ke Banda Aceh sudah mencapai angka 81. Sementara urutan ke Medan sudah mencapai 40. Saya mendaftar di urutan 40-an untuk penerbangan ke Medan. Namun, saat urutan terakhir, sekitar jam 18.00-an saya putuskan untuk langsung ke Banda Aceh. Tiket pesawat garuda akhirnya saya dapat dengan nomor penerbangan garuda 1904. Namun penerbangan untuk jam satu malam. Saya dan seorang teman wartawan foto, Bang Rizal menunggu di bandara. Setelah menunggu, diberitahukan bahwa pesawat diajukan keberangkatannya jam 12.00 malam. Namun, sampai jam satu lebih, petugas Garuda memberitahukan bahwa pesawat ditunda sampai pagi hari jam 6.10, hari kamisnya. Terpaksa kami menginap di Bandara Soekarno-Hatta. Penerbangan kami dipindahkan ke GA 1903 hari kamis.
Kamis, 30 Desember 2004 Kamis pagi, jam 6.10 kami berangkat menuju Banda Aceh. Beberapa relawan medis dari Perancis seperti Medicine Mundo, Tim Medis Lintas Bangsa, relawan dari bulan sabit merah, wartawan Trans TV, dan lain-lain satu pesawat dengan kami. Kami transit di Medan selama satu jam. Kemudian pesawat terbang ke Banda Aceh. Sampai di Banda, jam satu siang. Banyak orang berkerumun di Bandara. Ada orang setempat, tentara, relawan, dan tumpukan barang-barang logistik. Saya menyewa mobil menuju Banda dari penduduk setempat. Di jalanan, kami temui rumah dan gedung runtuh. Pengungsi terdiaspora. Ada yang sedang berjalan kaki, menuju Lanud Iskandar Muda. Beberapa pengungsi terkumpul di sekolah-sekolah. Kantor Kepala Desa atau Kantor pemerintahan daerah. Terlihat beberapa pengungsi bergerombol naik truk. Truk tanki BBM diserbu pembeli karena bensin dan minyak tanah sangat langka. Di daerah yang disebut Ule Karing, pasar kecil sudah mulai beroperasi. Ada yang berjualan daging, sayur. Di beberapa rumah, warung-warung kecil dibuka. Penduduk jualan bahan-bahan makan dalam skala sangat kecil, aqua, roti, atau sekedar ketela ubi. Sampai di Banda, kami temui salah satu keluarga yang terkena musibah. Mereka sebagian besar selamat dan menempati rumah yang masih menyediakan fasilitas lumayan bagus seperti air bersih, generator listrik, makanan, dan tempat yang layak huni. Setelah istirahat sejenak, karena sempat muntah-muntah, pusing, dan mual saat hendak turun di Lanud Iskandar Muda, saya berkeliling kota Banda naik sepeda motor hasil pinjaman dari salah satu keluarga yang selamat. Kondisi kota secara umum masih porak poranda. Mayat-mayat di jalanan utama sudah diangkut. Sebagian tertimbun puing-puing, sebagian lagi masih dievakuasi, di angkut ke truk tentara. Para tentara dan polisi kecapaian. Beberapa orang asing keliling kota untuk memotret situasi. Melihat beberapa orang asing ini, dalam hati saya terbersit rasa bersalah (konflik batin). Kok, saya seperti mereka. Berkeliling hanya untuk sekedar melihat situasi sambil motret sana, motret sini. Saya tidak ingin seperti itu, seolah saya ini turis yang sedang wisata. Saya mesti bantu, tapi bantu apa? Angkat mayat saya kurang berani. Sementara tidak banyak kegiatan yang tampak dari para relawan. Beberapa relawan mahasiswa dari Universitas tertentu berkeliaran di jalanan. Ada yang jelas pekerjaannya, ada yang sekedar lihat-lihat suasana kota. Di beberapa titik, seperti pendopo gubernuran, sebuah sekolah dasar negeri, dan beberapa tempat lain, pengungsi masih berebutan untuk sekedar mendapatkan makanan atau minum. Banda seperti layaknya kota mati. Rumah-rumah tertimbun Lumpur setinggi lutut. Beberapa mayat masih bergelimpangan tersebar. Ada yang tertimbun puing-puing dan ada yang tergeletak begitu saja sendirian. Kamis malam hari kami bersama satu keluarga korban berangkat ke Medan untuk mengungsi. Saya menemani rekan dan keluarganya yang tertimpa musibah ini ke Medan. Mungkin ini yang bisa saya lakukan untuk mereka dan teman saya. Begitu batin saya. Sampai di Medan, hari Jumat, jam satu siang. Perjalanan makan waktu sekitar 12 jam.
Jumat-Sabtu , 31 Desember 2004 dan 1 Januari 2005 Sesampai di Medan, saya memutuskan untuk mencari tempat lain yang bisa diliput karena kebanyakan media mengcover Banda Aceh. Saya berpisah dengan teman saya yang memboyong keluarganya ke Jakarta. Kebetulan ada teman anggota Jaringan Relawan Kemanusiaan Jakarta di bawah pimpinan Rm. Sandyawan Sumardi SJ ada di Medan. Saya bergabung dengan mereka. Rencananya malam itu mereka akan pergi ke Aceh Singkil (Aceh Selatan). Setelah mencari-cari tempat/ posko mereka (maklum baru sekali ini ke Medan), sampailah juga saya ke tempat para relawan ini. Malam tahun baru kami berangkat ke Aceh Singkil. Sampai di Singkil jam tujuh pagi. Setelah istirahat sejenak, kami segera mencari informasi bagaimana bisa mencapai Meulaboh, tujuan kami. Beberapa pihak kami temui seperti PT Astra Agro Lestari Tbk, PT Socfindo yang mempunyai kapal feri dan perkebunan di Meulaboh. PT Astra kapalnya kehabisan minyak dan masih berada di pelabuhan Meulaboh dan tidak bisa balik. Mereka sedang mencari 24 drum untuk diisi BBM dan dikirim ke kapal tersebut. Sementara itu Kapal PT Socfindo rencananya baru berangkat hari Minggu pagi. Karena terlalu lama menunggu kapal saya dan teman-teman mulai stress. Inginnya kami segera berangkat. Lalu saya berusaha tenang dengan mengunjungi posko bencana setempat di Singkil. Saya dapat informasi bahwa ada seorang penduduk setempat yang berhasil sampai Meulaboh lewat jalan darat.
Minggu, 2 Januari 2005 Esok paginya, hari minggu saya langsung temui orang yang bernama Bapak Sofiyanto. Dia menceritakan dengan sedikit detail tentang pengalamannya dari Meulaboh. Perjalanan darat yang dilakukannya perlu usaha ekstra keras. Dia harus menggunakan sepeda motor, bawa persediaan bahan bakar sendiri dan persediaan makanan sendiri. Tiga jembatan sepanjang 30 meter putus. Perjalanan harus lewat rakit sampai tiga kali. Sepanjang jalan dipastikan aman karena ada TNI, PM dan polisi yang menjaga. Menurut Sofiyanto, di wilayah Bakongan, sekitar 50 km dari Meulaboh banyak logistik tertahan karena tidak ada pengangkutnya. Bahan bakar habis. Sebelum sampai Meulaboh, Sofi kehabisan bahan bakar. Akhirnya dia naik angkutan. Kebetulan ada, walau sangat terbatas. Akhirnya sesampai di Meulaboh, Sofi melihat bahwa kota ini benar-benar porak poranda. Kebanyakan mayat belum terevakuasi karena BBM habis. Beberapa tenaga PMI dan masyarakat yang membantu kelelahan. Mereka sudah mentok karena kehabisan tenaga dan semangat. Di beberapa desa seperti desa lapang dan bergang, pengungsi mengumpul. Ada truk tanki PDAM yang bisa diandalkan air bersihnya. Namun, makanan minim. Karena itu, pengungsi tampak brutal bila datang sumbangan makanan. Mereka sangat membutuhkan. Karena sampai hari ketujuh tidak ada relawan yang bisa masuk ke tempat itu. Yang beruntung adalah pengungsi yang bisa mencapai perkebunan milik PT Socfindo. Karena paling tidak mereka terbantu untuk beberapa fasilitas yang bisa digunakan semisal air bersih dan makanan. Tempat tinggal di mess karyawan atau di perkebunan. Sementara itu, teman-teman relawan di Aceh Singkil sedang berburu informasi tentang keberangkatan kapal dan negosiasi dengan PT Socfindo untuk pembuatan posko di perkebunan mereka di Seanagan serta kemungkinan bahwa mereka bisa menggunakan truk milik perusahaan perkebunan kelapa sawit ini untuk transportasi dari Seanagan ke Meulaboh. Ternyata minggu siang itu diberitahukan bahwa kapal PT Socfindo tidak jadi berangkat malam itu. Mereka akan berangkat hari senin pagi. Siang itu saya sudah berangkat ke Medan (saya diminta pulang ke Jakarta oleh bos/redpel) sementara kontak telepon terus berlangsung dengan teman-teman relawan. Dalam perjalanan pulang ke Medan lewat jalur Tulakan-Sidikalang- Sumbul-Kabanjahe- Brastagi-Medan itu saya sempat menangis. Saya yang biasanya sulit menangis, eh waktu itu bisa menangis sesenggukan. Untungnya tidak kelihatan penumpang lain, karena saya berada di belakang. Saya menangis karena eksistensi saya tersentuh. Dalam hati saya termenung; saya ini siapa? Tidak ada apa-apanya di hadapan semesta yang begitu agung dan luar biasa. Maka jangan sombong, jangan takabur. Semua yang kita miliki adalah berkat kurnia Hyang Agung. (catatan: Ternyata pas saya sudah sampai Jakarta dan sempat ke kantor, hari selasa malam saya menangis lagi saat berdoa bersama istri saya. Saya heran juga, sudah lama saya tidak berdoa bareng, eh tiba-tiba mengajak doa bareng sama istri). Sesampai di Medan, minggu malam. Saya langsung ke posko relawan di Jl. Sedap malam VI B, padang bulan, Medan. Ada sekitar 13 relawan mau berangkat. Tampaknya mereka ragu-ragu dengan perjalanan yang akan mereka tempuh. Misalnya mereka masih sedikit takut dengan GAM, kepastian perjalanan yang bakal mereka tempuh, bagaimana mereka mesti bersikap nanti setelah sampai dan akan ditaruh dimana setelah sampai. Saat itu saya gunakan kesempatan untuk memberikan informasi selengkap-lengkapnya supaya para relawan ini bersemangat dan tidak ragu-ragu. Ternyata berhasil. Saya pikir, ini memang sudah diatur. Kalau saya tidak pulang ke medan, mungkin informasi ini tidak akan sampai ke teman-teman relawan ini. Akhirnya mereka berangkat jam setengah sebelas malam. Dan saya menginap di posko sampai pagi.
Senin, 3 Januari 2005 Senin pagi, sekitar jam sembilan saya ke bandara Polonia. Saya berusaha mendapat tiket Jakarta hari itu. namun, semua tiket untuk penerbangan hari itu sudah habis, mulai dari jatayu, adam air, mandala, garuda apalagi, Batavia air, dll. Untungnya saya ke counter air asia. Masih ada tiket untuk ke jakarta jam 19.20. namun harganya sudah selangit. Dari yang tadinya 300 ribu menjadi 996 ribu. Mau tidak mau saya beli karena saya harus ke Jakarta karena diminta pulang oleh redaktur pelaksana di kantor. Saya menunggu di bandara polonia mulai jam setengah enam. Ternyata pesawat ditunda penerbangannya jam setengah sebelas. Baru akhirnya bisa terbang malah jam setengah dua belas lebih sepuluh menit. Sampai di Soekarno Hatta, jam dua pagi.
Sedikit Refleksi Melihat situasi Banda Aceh dan sekitarnya, saya menyadari bahwa diri kita ini tidak ada apa-apanya di hadapan alam semesta, di hadapan Hyang Agung. Kalau Alam menghendaki kita hancur ya bakalan hancur. Itu artinya semua yang kita miliki seperti uang, pengetahuan, pakaian bagus dan mewah, rumah bagus, tempat bisnis yang menguntungkan, bahkan hidup kita sekalipun tidak ada artinya di hadapan semesta alam. Karena itu, jangan bermegah dengan semua itu. Semua yang ada, yang kita miliki hanyalah semata karunia dari Hyang Agung yang hendaknya dipergunakan tidak hanya untuk kepentingan pribadi melainkan juga orang lain yang membutuhkan. Jangan takaburlah. Hidup kita tergantung dari Hyang Agung. Kedua, melihat pengalaman para pengungsi dari P. Simeuleu yang kebanyakan selamat walau rumahnya hancur, kita bisa belajar bahwa bersahabat dengan alam adalah bagian dari hidup kita. Kalau kita tahu dan mengenal bagaimana alam bekerja, kita akan selamat. Mereka selamat karena tahu bahwa surutnya air laut sebagai pertanda akan datangnya gelombang besar. Maka mereka segera pegi ke gunung-gunung. Kita mesti menempatkan diri sebagai bagian dari alam dan bukan sebagai subyek yang seenaknya mengobyekkan alam, mengeksploitasi seenaknya alam sampai sehabis-habisnya. Paradgima seperti itu sudah usang dan sangat tidak manusiawi. Terima kasih, semoga sharing ini bermanfaat bagi kita semua. Salam.
|
| |