abdi's posts with tag: jalan menikung

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag jalan menikung
Posted by abdi on Nov 1, '07 4:10 AM for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:uMAR kAYAM
Globalisasi yang menyergap segenap aspek kehidupan kita dewasa ini jelas tidak bisa kita hindari. Arus dunia yang sedemikian kuat ini ditandai dengan gejala yang menunjukkan bahwa orang sudah merasa bosan dan jengah dengan segala pengkotak-kotakan entah itu dalam hal agama, ras, suku, maupun golongan.

Orang merasa bahwa dirinya tidak lagi hidup dalam suatu regio tersendiri yang tidak berinteraksi dengan regio lagi tetapi cenderung untuk melihat dan menginginkan pengalaman untuk hidup dalam regio lain. Kesadaran bahwa dunia ini adalah bangsanya menjadi semakin besar. Dunia menjadi sebuah desa yang bisa dijangkau oleh siapa saja, demikian kata Mc Luhan.

Semakin bertumbuh dan berkembang seorang manusia semakin diharapkan dia akan dapat mengikuti alur jalan dan waktu yang tidak hanya terbatas pada tempat dia dilahirkan tetapi melampauinya dan menyeberang ke berbagai jalan dan tempat dimana terdapat berbagai macam hal yang asing dan sama sekali berbeda dengan tempat kelahirannya. Inilah salah satu gejala dari munculnya modernitas.
Namun demikian semodern apa pun manusia itu ia pasti masih merasa terikat dengan tempat dia lahir. Kenyataan inilah yang mau disampaikan Umar Kayam dalam novelnya yang berjudul Jalan Menikung lanjutan dari Novel sebelumnya yang berjudul Para Priyayi.

Eko, anak tunggal pasangan Harimurti dan Suli suatu saat mendapat kesempatan untuk belajar ke luar negeri, di Sunnybrook College, Connecticut, Amerika Serikat. Jelas rencana ini tidak akan semudah membalik tangan saja. Permasalahan tidak begitu saja berjalan mulus. Perdebatan pun mulai muncul diantara orang tuanya antara menyetujui atau tidak. Setelah beberapa lama melakukan pertimbangan sana-sini, akhirnya Eko pun sekolah dan tinggal bersama keluarga Samuel dan Sarah Levin pasangan Yahudi Amerika.

Sampai suatu saat karena Harimurti dipecat secara halus dari pekerjaannya akibat "black list" yang telah ditempelkan pada dirinya bahwa dia termasuk orang kiri, Eko dilarang kembali ke jakarta dengan alasan praktis bahwa beban akan menjadi bertambah akibat daftar hitam yang pasti juga mengenai Eko. Eko akan sulit mencari pekerjaan di Indonesia. Keputusan ini pun tidak lepas dari perdebatan yang penuh emosi antara kedua pasangan Harimurti dan Suli yang begitu rindu dengan anak tunggalnya.

Situasi semakin memuncak ketika diberitakan bahwa Eko mau menikahi, Claire, anak induk semangnya. Eko telah lama tinggal di Amerika dan bekerja di sana. Dia telah menjadi orang Jawa Amerika dan pergaulannya dengan Claire, anak pasangan Samuel dan Sarah Levin itu semakin erat. Akhirnya Claire pun mengandung benih yang ditanam Eko dalam rahimnya. Sebagai seorang Gentlemen, Eko pun mengajak Claire untuk menikah. Eko mulai memberitahu keluarganya di Indonesia setelah orang tua Claire diberitahu rencana mereka. Dengan sedikit terkejut toh akhirnya mereka (orang tua Claire) menyetujui pernikahan mereka.

Sekarang permasalahannya ada pada keluarga Eko. Peristiwa kehamilan dan rencana pernikahan yang begitu saja diberitahukan serta soal ke-yahudian yang menempel dalam diri Claire menjadi masalah utama buat Suli, Sang Ibu.
…Uni, Surat apa itu! Kenes, tidak serius, tidak ernstig. Wong melaporkan percintaan, kehamilan, dan perkawinan kok enteng begitu saja…….Kalau orang tua kita itu masih ada , oooh akan bagaimana mereka! Melihat cucunya kawin dengan orang asing, Yahudi lagi!”….(hlm.38)

Ketakutan dan kekhawatiran mewarnai emosi Sang Ibu. Perbincangan yang hangat antar pasangan Harimurti- Suli dan Lantip- Halimah pun terjadi. Lantip, paman Eko, dengan bijaknya mencoba menjernihkan persoalan yang ada dan memberikan penyadaran bahwa segala hal yang mereka pikirkan mengenai Yahudi yang terkenal kurang baik terhadap orang Islam adalah pandangan-pandangan yang bersifat apriori, dugaan semata karena tidak ada satu pun yang paham mengenai Yahudi.

……Lantip lalu mengajukan pertanyaan. “Siapa dari kita yang tahu tentang agama Yahudi?” semua dengan pelan menggelengkan kepala mereka. Tapi Lantip melanjutkan bicaranya. “Jadi, sesungguhnya kita memang tidak tahu apa-apa tentang apa yang yang disebut dengan agama Yahudi itu. Yang kita lakukan hanyalah menduga-duga apa agama Yahudi itu berdasar pengetahuan yang sangat dangkal saja yang kita dapat dari dengar-dengar dari sana-sini….(hlm 39)

Dan akhirnya Harimurti dan Suli pun merestui pernikahan mereka setelah menyadari bahwa anak mereka bukan anak-anak lagi yang setiap kali harus meminta ijin atas segala yang dilakukannya.
…..“Yah, dengan percakapan ini sesungguhnya kita jadi lebih menyadari bahwa Eko bukan anak-anak lagi. Sudah jadi orang, Bu…….Fait accompli yang dikatakan Lantip tadi sesungguhnya cara dia bilang kepada kita bahwa dia sudah orang dewasa.”…..(hlm.40)

Warna konflik yang sama terjadi juga dalam keluarga pasangan Tommi- Jeanette. Anak putri satu-satunya, Anna Aditomo Nugroho telah mengandung seorang bayi dari Boy saputro. Boy Saputro adalah anak Handoyo, partner kerja Tommi, yang nama aslinya adalah Han Swie Kun. Dari nama asli inilah permasalahan menjadi berat karena Tommi sang ayah sangat tidak setuju dengan pencampuran darah yang terjadi. Pernikahan yang bakalan terjadi ini akan merusak trah keluarga.
….”Kalian tahu, saudara-saudaraku, nama Handoyo itu sebenarnya? Han Swie Kun! Coba, adik-adikku, darah Sastrodarsono mau dicampur dengan darah Han Swie Kun. Apa tidak kacau nanti!”…..(hlm 78)

Trah besar keluarga Sastrodarsono pun dipanggil semua untuk membicarakan hal ini. Perdebatan sengit dan pertentangan yang kuat dari sang ayah begitu hebatnya. Tommi sama sekali tidak setuju dan tidak mau membiayai perkawinan yang bakal terjadi, sementara ibu dan keluarga lain memberi dukungan. Penyelesaian ini akhirnya dimunculkan dengan ampunan yang muncul dari sang ayah sendiri.

Dari dua konflik besar yang dimunculkan Umar Kayam ini, kita diajak untuk melihat bahwa hidup manusia di zaman sekarang ini sudah berubah. Gaya hidup sudah tidak lagi terbatas pada tempat dan daerahnya sendiri. Kita sekarang ini adalah manusia global, manusia kosmopolit. Sebagaimana dilansir oleh Mc luhan pada tahun 1964 yang menyatakan bahwa dunia sekarang ini layaknya dusun global yang di dalamnya tidak ada lagi batas-batas geografis dan kultural yang mutlak. Nasionalisme kita bahkan bukan lagi ditentukan oleh kebangsaan kita. Nasion kita adalah dunia ini. Itu yang mau diungkapkan dalam konflik yang dialami Eko dan Anna. Dengan nasion yang tidak lagi berdasar kebangsaan apalagi suku bangsa, apa yang namanya darah suci, darah biru, kebangsawanan, lebih benar dan lebih suci atau apa pun yang bersuasana lebih hebat dari kelompok lain merupakan sesuatu yang tidak zamannya lagi, tidak relevan lagi untuk hidup kita sekarang ini. Orang cina atau keturunan non-pribumi lain merupakan bagian dari keluarga besar dunia ini.

Walaupun hidup kita pasti masih punya kaitan erat dengan budaya atau suku bangsa kita, kita tetap mesti bersikap arif dalam memandang dunia ini sebagai kumpulan kelompok yang punya kelemahan dan kelebihan masing-masing dan tidak ada yang berbudaya lebih tinggi atau lebih rendah. Baik buruknya seseorang tidaklah ditentukan oleh darahnya biru atau putih atau keturunan aria atau apa pun juga, tetapi ditentukan oleh kualitasnya sebagai manusia.

….Anna tidak keberatan sama sekali atas kesimpulannya tentang penampilan Boy yang memang bilang: “cina betul”. ….Orangnya pintar, cerdas, tidak sok, baik hati, rendah hati, simpatik. Pokoknya Boy itu sip…..(hlm. 79)

Gaya hidup postmodern inilah yang mau ditampilkan dalam novel "Jalan Menikung" kali ini. Dalam suatu babak ketika terjadi perbincangan di tanah kelahiran Halimah, di Padang terucap kata-kata Jalan menikung yang mengandung penafsiran jelas bahwa jalan yang ditempuh dalam hidup manusia akan semakin jauh dan menikung seiring dengan perkembangan peradaban ini. Penikungan ini tidak hanya berupa penikungan yang memiliki arti geografis; jauh dari tempat tinggal, tempat lahir dan tempat dibesarkan tetapi juga terjadi dalam tataran pikiran, pengetahuan dan pandangan mengenai dunia dan manusia.

Semakin jauh dari tempat tinggalnya semakin dekat seseorang dengan yang namanya benturan budaya. Pada saatnya kenyataan semacam ini merupakan hal yang biasa terjadi di dunia ini. Gejala globalisasi yang ditunjukkan dengan semakin sempitnya ruang dan waktu menempatkan dan mempertemukan individu-individu dan kelompok-kelompok manusia dengan individu dan kelompok manusia lain. Orang akan dituntut semakin terbuka dan belajar memahami dan mengerti orang lain.

Adanya benturan budaya tidak hanya ditampilkan lewat permasalahan yang dialami Eko-Claire dan Anna-Boy saja, tetapi juga lewat permasalahan pemugaran makam. Tommi, sang kepala keluarga besar Sastrodarsono dengan penuh semangat mau memugar dan memperindah makam leluhurnya dengan berbagai macam hiasan sebagaimana layaknya seorang kaisar Romawi. Perdebatan terjadi pada masalah kemewahan yang akhirnya bisa ditolerir oleh Tommi.
Tommi pun dapat menyelesaikan proyek ucapan terima kasihnya ini (kepada leluhurnya) dengan lancar dan bangga. Kenyataan lain mengenai orang mati ini ditemui dalam keluarga Halimah yang merasa bahwa manusia yang sudah mati adalah urusan Allah, sementara yang masih hidup tidak berhak mencampurinya. Makam tidak perlu dibuat mewah, cukup dengan gundukan tanah dan akhirnya makam tidak dikenal kalau sudah lama dan tidak terawat.

Dua budaya yang hidup dan memiliki perbedaan yang menonjol dalam kisah ini diperkuat juga dengan suasana yang ditampilkan ketika trah keluarga Sastrodarsono berkumpul dan ketika Halimah pulang kampung. Keluarga Sastrodarsono dapat dikumpulkan semuanya dan jelas urutan trahnya, sementara keluarga Halimah tidak demikian adanya.

Kisah-kisah menarik yang ditampilkan Umar Kayam dalam hubungannya dengan pluralnya budaya yang tidak dapat dipungkiri ini diselingi juga dengan kisah-kisah kecil dan menarik dari pribadi-pribadi; Alan Bernstein dengan pergulatan hidupnya yang cukup menarik dengan seorang wanita yang dipujanya dan akhirnya meninggalkannya serta kompensasi atas semua itu pada kerja ; Tommi , Aditomo Nugroho yang memiliki wanita simpanan, Endang Rahayu Prameswari. Wanita yang cantik dan cerdas ini menjadi tempat tumpahan kegelisahan dan kelelahannya kala dia menghadapi masalah keluarganya.

Kedua permasalahan ini (dalam kisah Aan dan Tommi) mau mambawa kita pada kenyataan bahwa sekeras apapun dan sehebat apapun manusia, dia pasti memiliki ruang-ruang dimana kelembutan dan kasih sayang perlu diisikan didalamnya. Benturan budaya yang dialami manusia bisa menjadikan manusia menjadi keras dengan diri sendiri dan akhirnya keras terhadap orang lain, tetapi di lain pihak benturan yang diterima dengan hati terbuka akan membawa kepada kegembiraan dan kebahagiaan seperti yang ditampilkan oleh rukunnya keluarga Eko-Claire serta Anna- Boy.

Akhirnya Novel ini diakhiri dengan kisah manis; malam hari sewaktu salju menutupi muka bumi Amerika, Solomon, bayi Eko-Claire menangis keras dan tangisnya terhenti ketika sang ayah memainkan siter Jawa. Di malam yang bersalju di tanah Amerika ini terdengarlah lantunan lagu "Suwe Ora Jamu ". Sungguh indah bumi ini dengan segala perpaduan yang menghidupinya. Kita mesti pahami dan terima kenyataan ini.





© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help